Di Wolomoni, pagi datang membawa debu yang ganjil,
bukan dari musim kemarau, bukan pula dari angin bukit,
melainkan dari pagar sekolah yang roboh diterjang besi,
sementara anak-anak masih menyimpan mimpi di tas lusuhnya,
dan pelajaran pertama hari itu adalah arti kehilangan.
Ekskavator datang seperti tamu yang tak mengetuk pintu,
menggilas kesepakatan yang pernah diucap warga,
memotong tiang kelas sebagaimana pisau memotong ingatan,
lalu tanah yang biasa menumbuhkan huruf dan angka,
diukur untuk menegakkan bangunan bernama kesejahteraan.
Masyarakat telah berkata tidak dalam musyawarah desa,
para mosalaki telah menitipkan keberatan pada langit,
namun suara rakyat rupanya kalah nyaring dari suara mesin,
dan keputusan yang seharusnya lahir dari mufakat,
datang diam-diam bersama rantai baja pada petang hari.
Katanya koperasi adalah jalan menuju kemakmuran,
jalan yang menghubungkan petani dengan pasar dan modal,
tetapi mengapa jalan itu harus melewati ruang kelas?
Mengapa bangunan masa depan anak-anak diruntuhkan,
agar bangunan masa depan ekonomi bisa didirikan?
Betapa ironis negeri yang gemar berpidato tentang pendidikan,
namun membiarkan fondasi sekolah dihancurkan alat berat,
seolah huruf-huruf lebih murah daripada semen,
seolah cita-cita anak desa dapat dipindahkan begitu saja,
seperti memindahkan batu dari satu kebun ke kebun lain.
Di sudut sekolah yang terluka, warga menyandera ekskavator,
bukan karena membenci pembangunan yang dijanjikan,
melainkan karena mereka masih menghormati akal sehat,
bahwa koperasi dan sekolah seharusnya berjalan beriringan,
bukan saling menyingkirkan dari ruang yang sama.
Para pejabat berkata program ini baik dan mulia,
anggota dewan bertanya: mana prioritas yang sesungguhnya?
Sebab kemajuan tanpa kebijaksanaan hanyalah tergesa-gesa,
dan pembangunan yang mengorbankan pendidikan,
sering kali hanya mengganti luka dengan luka yang lain.
Kini SDN Wolomoni berdiri dengan sebagian tubuh tercabik,
menjadi monumen kecil bagi ironi pembangunan desa,
tempat anak-anak belajar bahwa kekuasaan kadang tuli,
bahwa tembok sekolah dapat runtuh oleh ambisi manusia,
dan bahwa masa depan pun bisa digusur atas nama kebaikan.
Sumber: PENDIDIKAN: "Sekolah di Ende Dirobohkan Diduga demi Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih" dalam Kompas, Selasa, 9 Juniu 2026, hlm. 11.