Di kaki Mutis yang diselimuti kabut pagi,
para tetua menjaga hutan seperti menjaga doa.
Mereka mengenal setiap mata air dan batu,
setiap akar yang menahan longsor musim hujan.
Namun dari kota yang jauh terdengar kabar:
hutan kini sedang dihitung harga pasarnya.
"Apakah kami tidak menjaga hutan?"
tanya seorang tua kepada angin pegunungan.
Pertanyaan itu melayang ke langit yang sunyi,
sementara berlembar-lembar regulasi turun.
Anehnya, penjaga dianggap belum cukup menjaga,
hingga penjagaan harus dibeli oleh pasar.
Pohon-pohon yang dahulu disebut saudara,
kini berubah menjadi angka dalam laporan.
Burung-burung tak lagi sekadar penghuni rimba,
melainkan aset yang menambah nilai investasi.
Daun-daun diterjemahkan ke bahasa neraca,
dan hutan dipaksa berbicara dengan mata uang.
Karbon yang tersimpan di batang-batang tua
diberi sertifikat, lalu dijual ke negeri jauh.
Mereka yang mengotori langit dengan asap
cukup membeli lembar pengampunan hijau.
Betapa ajaibnya perdagangan zaman ini:
merusak bumi lalu membeli rasa tidak bersalah.
Di Sungai Panak dan banyak hutan lainnya,
adat mulai bertemu pagar-pagar tak kasatmata.
Orang dilarang berburu di tanah leluhurnya,
dilarang menebang kayu untuk rumah anaknya.
Padahal sebelum negara mengenal peta,
mereka telah hidup selaras dengan rimba.
Negara berkata ini demi iklim dunia,
demi konservasi dan masa depan manusia.
Namun rakyat melihat tanda tanya di balik slogan:
mengapa yang menjaga justru dibatasi?
Mengapa yang hidup dari hutan dianggap ancaman,
sedang yang berdagang atas hutan disebut penyelamat?
Begitulah pasar merambah semakin jauh,
dari tambang, sawit, hingga udara yang dihirup.
Energi dijual, air diperhitungkan,
dan alam perlahan kehilangan kesuciannya.
Yang tersisa hanya label hijau yang berkilau,
menutupi wajah lama keserakahan.
Pada akhirnya Mutis tetap berdiri diam,
menyaksikan manusia memperdagangkan kehidupan.
Hutan bukan sekadar stok karbon dan angka,
melainkan rumah bagi kenangan dan martabat.
Jika negara terus menjadi pedagang,
siapa yang akan menjaga jiwa negeri ini?
Sumber: Uli Arta Siagian, "Negara Dagang", dalam Kompas, Senin 8 Juni 2026, hlm. 6.