Disisi Saidi Fatah
Disisi Saidi Fatah Penulis

Menulis untuk memahami dunia dan diri sendiri. Dari buku, film, dan perjalanan — mencari jejak yang pantas dikenang.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Ulasan Film Pendek Boikot: Ketegangan, Solidaritas, dan Kesadaran Sosial di Dunia Santri

7 November 2025   15:25 Diperbarui: 7 November 2025   15:34 114 5 1

Poster Film Pendek
Poster Film Pendek "Boikot". (Sumber: Lensa Fadlul Wahid/ig)

Menonton Film Boikot rasanya seperti memasuki dua dunia sekaligus - dunia kecil yang penuh aturan dan disiplin di sebuah pondok pesantren, dan dunia besar yang penuh ketidakpastian dan ancaman nyata, yaitu Gaza, Palestina.

Film pendek berdurasi kurang dari delapan menit ini, yang diproduksi oleh Lensa Fadllul Wahid Production (Capture The Moment Of Santri Salaf), berhasil mengemas kedua tema tersebut dengan apik, tanpa terasa dipaksakan.

Justru, perbandingan yang dibuat menimbulkan kesadaran mendalam bagi penonton tentang kenyamanan yang sering kita anggap biasa dan kesulitan yang dialami saudara-saudara kita di luar sana.

Film dibuka dengan adegan di pondok pesantren. Kita dibawa ke suasana pagi hari di mana santri-santri tengah melakukan aktivitas sehari-hari. Dialog menggunakan bahasa Jawa, sederhana tapi hidup, membuat kita merasa benar-benar ada di sana.

Dari sini, penonton langsung diperkenalkan dengan salah satu konflik kecil yang menjadi inti cerita: siapa yang membawa minuman dan bagaimana prosedur izin untuk membawa barang ke pondok.

Baca juga: Gagal Terus? Mungkin Bukan Usahanya, Tapi, Hati Kita yang Sudah Jauh

Tampak jelas ketegangan ringan muncul karena aturan ketat pondok - CCTV memantau setiap kegiatan, izin harus lengkap, dan disiplin adalah harga mati.

Official Poster Film Pendek Boikot
Official Poster Film Pendek Boikot

Yang menarik, meski sepele, adegan ini menghadirkan nuansa humanis. Santri yang kelelahan atau kurang sehat diperhatikan, pengurus pondok berusaha menegakkan aturan tanpa mengabaikan sisi kemanusiaan.

Di sinilah film menunjukkan bahwa disiplin dan kasih sayang bisa berjalan beriringan. Tidak hanya sebagai aturan formal, tapi juga sebagai pendidikan karakter bagi para santri - bagaimana mereka belajar tanggung jawab, komunikasi, dan empati.

Namun, film tidak berhenti di dunia pondok yang nyaman. Seketika, penonton dibawa ke berita yang lebih besar: situasi di Gaza pada tanggal 1 Oktober 2025. Ultimatum evakuasi dari pemerintah Israel kepada warga Kota Gaza menjadi titik dramatis yang kontras dengan kenyamanan pondok.

Film ini pintar menampilkan dualitas itu: di satu sisi kita melihat keamanan dan ketertiban pondok, di sisi lain, ancaman nyata dan hidup-mati di Gaza.

Narasi di bagian ini bukan hanya informasi. Ini adalah seruan moral dan spiritual. Penonton diajak refleksi: apa artinya kenyamanan jika saudara kita berada dalam bahaya? Bagaimana kita, umat muslim, bisa menolong meski dari jarak jauh?

Baca juga: "Lelaki Tidak Bercerita: Diam Bukan Marah, Tapi Lagi Pingin Tenang"

Film memberikan jawaban yang konkret: donasi, doa, dan boikot produk yang mendukung musuh umat muslim. Tiga langkah sederhana yang dikemas dengan cara yang tidak menggurui tapi menyentuh hati.

Menariknya, Boikot juga mengajarkan tentang komunikasi dan tanggung jawab di komunitas. Kembali ke pondok, seorang santri meminta maaf karena dianggap melanggar aturan minggu lalu. Ia mengakui kesalahannya, menjelaskan tindakannya, dan bertanggung jawab atas masalah yang melibatkan santri lain.

Adegan ini sederhana, tapi penuh makna: tanggung jawab tidak hanya soal aturan, tapi soal kejujuran, keberanian mengakui kesalahan, dan menjaga hubungan dengan orang lain.

Secara visual, film ini meski berdurasi pendek, berhasil memanfaatkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh santri untuk membangun ketegangan sekaligus rasa empati. Kamera yang menangkap interaksi sehari-hari membuat penonton seakan ikut berada di pondok, mendengar canda, teguran, dan perhatian dari pengurus pondok.

Sementara adegan berita Gaza dibingkai dengan kontras - gelap, penuh urgensi, dan menimbulkan rasa prihatin mendalam. Kontras ini bukan sekadar teknik visual, tapi juga strategi naratif yang cerdas: membuat penonton merasakan dua sisi kehidupan secara bersamaan.

Baca juga: "Rintik Sendu di Petricor: Teman Menyulam Kenangan di Saat Hujan"

Nilai sosial dan pesan moral yang disampaikan film ini sangat relevan. Selain solidaritas terhadap Palestina, film mengingatkan kita tentang pentingnya empati, kesadaran sosial, dan tindakan nyata. Tidak cukup sekadar merasa prihatin; tindakan konkret - seperti donasi atau boikot - memberi makna nyata pada solidaritas.

Selain itu, kehidupan pondok menekankan pentingnya kedisiplinan, komunikasi, dan tanggung jawab - nilai-nilai yang bisa diterapkan di mana saja, tidak hanya di pesantren.

Secara keseluruhan, Boikot berhasil menyampaikan pesan edukatif dengan cara yang menghibur dan menyentuh. Film ini bukan hanya tentang “boikot” dalam arti sempit, tetapi tentang kesadaran, empati, dan solidaritas dalam arti luas.

Dengan durasi 7 menit 39 detik, film ini mampu menyeimbangkan ketegangan, emosi, dan pesan moral tanpa terasa terburu-buru. Alur yang runut, narasi yang mengalir, dan karakter yang manusiawi membuat film ini layak mendapatkan predikat Terbaik 1 Festival Film Pendek Jawa Tengah 2025, yang diselenggarakan oleh PWNU & NU Online.

Sejak diunggah pada 17 Oktober 2025, film ini telah menarik perhatian lebih dari 10 ribu penonton. Bagi yang belum sempat menonton, film pendek ini bisa diakses melalui kanal YouTube Lensa Fadlul Wahid, menghadirkan pengalaman menonton yang edukatif, menghibur, sekaligus menyentuh hati.


Yang paling mengesankan, film ini mengajak penonton untuk merenung: di dunia yang sering terasa nyaman dan aman, ada saudara kita yang hidup dalam ancaman nyata.

Solidaritas bukan sekadar kata, tapi tindakan - besar atau kecil. Dan di tengah kehidupan komunitas, tanggung jawab, komunikasi, dan empati adalah kunci untuk membangun lingkungan yang harmonis.

Film Boikot meninggalkan kesan mendalam: menumbuhkan kepedulian, membangkitkan empati, dan menyadarkan kita akan pentingnya bertindak nyata dalam solidaritas sosial.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3