
Film Hidden Figures tidak hanya bercerita tentang keberhasilan program antariksa NASA, tetapi juga membuka realitas tentang bagaimana ras membentuk relasi sosial di lingkungan kelas pekerja. Melalui kisah Katherine Johnson, Dorothy Vaughan, dan Mary Jackson, film ini menunjukkan bahwa kompetensi tidak selalu menjadi faktor utama dalam menentukan posisi seseorang di dunia kerja warna kulit sering kali lebih dulu berbicara.
Salah satu adegan paling kuat muncul ketika Katherine harus berlari hampir setengah kilometer hanya untuk menggunakan toilet khusus “colored”. Di tengah tuntutan pekerjaan yang membutuhkan presisi tinggi, waktu kerjanya justru terbuang karena sistem segregasi. Adegan ini bukan sekadar persoalan fasilitas, melainkan simbol bagaimana tubuh pekerja kulit hitam dianggap “tidak sepenuhnya berada” dalam ruang kerja yang sama. Menariknya, praktik segregasi seperti ini memang nyata pada era Jim Crow. Arsip National Park Service mencatat bahwa pemisahan fasilitas publik berdasarkan ras berlangsung secara legal di banyak negara bagian Amerika hingga 1960-an.
Adegan lain yang memperlihatkan ketimpangan relasi kerja terlihat pada Dorothy Vaughan. Ia menjalankan fungsi supervisor, mengatur pekerjaan tim, bahkan membaca perubahan teknologi dengan mempelajari komputer IBM. Namun, selama cukup lama ia tidak mendapatkan jabatan resmi maupun upah yang setara. Di sini film menunjukkan bentuk eksploitasi yang lebih halus: tenaga dan kompetensi kelompok minoritas dimanfaatkan, tetapi pengakuan struktural ditunda.
Mary Jackson menghadirkan bentuk diskriminasi yang lebih sistemik. Dalam salah satu scene penting, ia harus menghadap pengadilan hanya untuk memperoleh izin mengikuti kelas teknik yang dikhususkan bagi warga kulit putih. Adegan ini memperlihatkan bahwa mobilitas kelas pekerja tidak hanya ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga akses terhadap institusi yang sejak awal tidak dibangun untuk semua orang.
Yang membuat Hidden Figures terasa relevan hingga hari ini adalah bagaimana ketimpangan yang digambarkan film masih memiliki jejak dalam dunia kerja modern. Data dari McKinsey & Company menunjukkan pekerja kulit hitam di Amerika masih kurang terwakili pada level manajerial dan eksekutif dibanding proporsi mereka di level awal karier, menandakan adanya hambatan struktural dalam mobilitas kerja.
Pada akhirnya, Hidden Figures tidak hanya merayakan keberhasilan tiga perempuan luar biasa, tetapi juga mengkritik sistem kerja yang sejak awal dibangun dengan hierarki rasial. Film ini mengingatkan bahwa ketimpangan ras dalam relasi sosial kelas pekerja tidak selalu hadir dalam bentuk penghinaan langsung; terkadang ia hadir lewat ruang yang dipisahkan, jabatan yang ditunda, dan akses yang dipersulit. Justru karena bentuknya tampak “normal”, diskriminasi semacam ini menjadi lebih sulit disadari dan lebih penting untuk terus dibicarakan.