Didi Suprijadi ( Ayah Didi)
Didi Suprijadi ( Ayah Didi) Guru

Penggiat sosial kemasyarakatan,, pendidik selama 40 tahun . Hoby tentang lingkungan hidup sekaligus penggiat program kampung iklim. Pengurus serikat pekerja guru.

Selanjutnya

Tutup

Video

Muhammad Argaza, Ulang Tahun ke-17 dan Mimpi Menaklukkan Lintasan Lari

18 Oktober 2026   06:55 Diperbarui: 18 Oktober 2026   06:55 150 0 0

Selamat Ulang Tahun Kakak Gaza dokpri
Selamat Ulang Tahun Kakak Gaza dokpri

# Muhammad Argaza, Ulang Tahun ke-17 dan Mimpi Menaklukkan Lintasan Lari

**Rawamangun, 17 Oktober 2026** --- Suasana malam Minggu di sebuah rumah makan di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, terasa berbeda bagi keluarga Ayah Didi. Malam itu, Sabtu (17/10/2026), keluarga berkumpul untuk makan malam bersama dalam rangka memperingati hari ulang tahun Muhammad Argaza, cucu laki-laki pertama Ayah Didi, yang genap berusia 17 tahun.

Gaza, demikian ia akrab disapa, merupakan putra pasangan Idzma Mahayattika dan Lintang Febriani Ia lahir di Bogor pada 17 Oktober 2009, tepatnya di sebuah rumah sakit di kawasan Yasmin.

Bagi keluarga Ayah Didi, perayaan ulang tahun biasanya berlangsung sederhana. Doa bersama dianggap cukup sebagai ungkapan rasa syukur atas bertambahnya usia anggota keluarga. Tidak selalu ada acara makan bersama atau perayaan khusus seperti yang lazim dilakukan sebagian keluarga lainnya.

Namun, malam itu sedikit berbeda. Keluarga memilih berkumpul di rumah makan, menikmati hidangan bersama, sekaligus menyampaikan doa dan harapan bagi perjalanan hidup Gaza yang mulai memasuki usia dewasa.

Di tengah suasana hangat tersebut, terselip harapan agar cucu pertama Ayah Didi itu mampu mengembangkan potensi diri, meraih cita-cita, dan menemukan jalan hidup yang sesuai dengan minat serta kemampuannya.

## Menapaki jalan sebagai pelari

Gaza dikenal sebagai remaja bertubuh jangkung, dengan tinggi sekitar 173 sentimeter dan berat badan 53 kilogram. Berkulit sawo matang, berambut hitam sedikit ikal, ia memiliki ketertarikan besar terhadap olahraga, terutama atletik nomor lari jarak jauh.

Baginya, berlari bukan sekadar kegiatan untuk menjaga kebugaran tubuh. Lintasan lari menjadi tempat menguji kemampuan, melatih kedisiplinan, dan mengukur sejauh mana dirinya dapat bertahan menghadapi tantangan.

Sejumlah ajang lari telah diikutinya untuk menguji kemampuan sekaligus menambah pengalaman bertanding. Di antaranya Sentul Ultra sejauh 17 kilometer pada Agustus 2026 dan Run and Chill sejauh lima kilometer di Bekasi.

Pengalaman mengikuti berbagai ajang tersebut menjadi bagian dari proses belajar seorang pelari muda. Setiap perlombaan menghadirkan tantangan tersendiri, mulai dari mengatur kecepatan, menjaga stamina, hingga mengendalikan diri ketika tubuh mulai merasakan kelelahan.

Cita-cita Gaza tidak berhenti pada keikutsertaan dalam perlombaan. Ia ingin menjadi atlet lari yang mampu berprestasi di tingkat nasional. Jika kesempatan dan kemampuannya memungkinkan, ia bahkan bermimpi menembus kompetisi tingkat dunia.

Untuk mendekati cita-cita itu, Gaza berusaha membangun kebiasaan latihan secara teratur. Ia menargetkan volume latihan hingga sekitar 60 kilometer per minggu, atau rata-rata mendekati 10 kilometer per hari pada hari-hari latihan.

Target tersebut memperlihatkan kesungguhannya menekuni olahraga yang membutuhkan daya tahan, ketekunan, serta konsistensi. Namun, perjalanan menuju prestasi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kilometer yang ditempuh. Teknik berlari, program latihan yang terukur, pemulihan tubuh, asupan gizi, dan pendampingan pelatih juga penting agar perkembangan kemampuan berlangsung secara sehat dan berkelanjutan.

## Belajar mandiri melalui pendidikan bisnis

Di luar dunia olahraga, Gaza masih menjalani pendidikan kelas XI di SBS, Suluk Bisnis Sosial, di Bekasi. Sekolah tersebut menitikberatkan pembelajaran pada pengembangan kemandirian dan jiwa kewirausahaan.

Pendidikan itu memberinya kesempatan untuk mengenal dunia kerja sejak dini. Sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran, Gaza telah diikutsertakan dalam program belajar sambil bekerja atau magang di sebuah toko penjualan perlengkapan olahraga besar di Kota Bekasi.

Pengalaman tersebut menjadi ruang belajar yang berbeda dari kegiatan akademik di kelas. Ia berkesempatan mengenal lingkungan usaha, memahami aktivitas penjualan, serta melihat secara langsung bagaimana perlengkapan olahraga menjadi bagian dari kebutuhan para penggemar dan pelaku olahraga.

Bagi seorang remaja yang bercita-cita menjadi atlet, pengalaman tersebut dapat memberikan nilai tambah. Ia tidak hanya belajar menjadi pelari, tetapi juga mengenal dunia usaha yang berkaitan dengan bidang yang diminatinya.

Kemandirian, kedisiplinan, dan kemampuan mengelola waktu menjadi bekal penting bagi Gaza untuk menyeimbangkan pendidikan dengan latihan olahraga. Sebab, perjalanan seorang atlet muda tidak berlangsung hanya di lintasan, tetapi juga melalui proses pembentukan karakter dalam kehidupan sehari-hari.

##Berlari untuk pengalaman dan prestasi

Salah satu ajang yang diikuti Gaza pada tahun ini adalah World Rabies Day (WRD) Run 2026, yang berlangsung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada Sabtu, 3 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Jagat Satwa Nusantara. Selain menjadi ajang olahraga, kegiatan itu bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pencegahan rabies dan mendukung gerakan Jakarta Bebas Rabies.

Peserta dapat memilih kategori lari lima kilometer dan 10 kilometer. Kegiatan ini juga menghadirkan kampanye edukasi tentang kesehatan serta kesejahteraan hewan, termasuk aktivitas bersama hewan peliharaan.

Keikutsertaan dalam ajang semacam itu mempertemukan olahraga dengan kepedulian sosial. Bagi Gaza, setiap perlombaan merupakan kesempatan untuk menambah pengalaman, menguji kesiapan fisik, dan membangun mental sebagai pelari.

Dalam cabang atletik, nomor lari memiliki karakteristik dan tingkat tantangan yang berbeda. Lari jarak pendek, seperti 100, 200, dan 400 meter, menuntut kecepatan tinggi. Sementara itu, lari jarak menengah dan jauh membutuhkan perpaduan kecepatan, strategi, serta daya tahan.

Nomor 800 meter dan 1.500 meter termasuk lari jarak menengah, sedangkan 5.000 meter dan 10.000 meter merupakan nomor lari jarak jauh di lintasan. Di luar stadion, terdapat pula berbagai ajang lari jalan raya, termasuk half marathon sejauh 21,0975 kilometer dan maraton penuh sejauh 42,195 kilometer.

Meski sama-sama mengandalkan kemampuan berlari, setiap nomor memerlukan persiapan yang berbeda. Seorang pelari perlu memahami karakteristik nomor yang hendak ditekuni agar latihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan target prestasi.

Bagi Gaza, pengalaman mengikuti lomba lari jarak jauh dapat menjadi pintu masuk untuk mengenali kemampuan diri. Dari sana, ia dapat belajar menetapkan sasaran secara bertahap, bukan sekadar mengejar jarak yang semakin panjang, melainkan juga meningkatkan kualitas dan konsistensi performa.

## Doa keluarga di usia ke-17

Malam ulang tahun ke-17 itu bukan hanya tentang bertambahnya usia. Bagi keluarga, momen tersebut menjadi kesempatan untuk menyampaikan kasih sayang sekaligus meneguhkan harapan terhadap masa depan Gaza.

Salah satu doa yang paling berkesan datang dari adiknya. Ia berharap agar kakaknya kelak mampu berdiri di podium pertama dalam ajang perlombaan lari yang diikutinya.

Doa sederhana itu mengandung harapan yang besar. Di balik keinginan meraih podium, ada impian seorang adik untuk melihat kakaknya berhasil melalui proses panjang, mengatasi kesulitan, dan membuktikan kemampuan terbaiknya.

Ayah Didi memandang bahwa dukungan keluarga merupakan bagian penting dalam perjalanan seorang anak. Prestasi tidak selalu hadir dalam waktu singkat. Ada latihan yang melelahkan, perlombaan yang belum menghasilkan kemenangan, dan berbagai pengalaman yang harus dijadikan bahan pembelajaran.

Tidak setiap perlombaan berakhir dengan medali. Namun, setiap pengalaman dapat membentuk ketangguhan apabila dijalani dengan sikap terbuka dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Memasuki usia 17 tahun, Gaza masih memiliki perjalanan panjang untuk menentukan arah masa depannya. Ia dapat terus mengembangkan kemampuan berlari sekaligus menyelesaikan pendidikan dan membangun kemandirian.

Makan malam keluarga di Rawamangun malam itu pun menjadi lebih dari sekadar perayaan ulang tahun. Ada doa, perhatian, dan harapan yang menyertai langkah seorang remaja menuju masa dewasa.

Semoga cita-cita Gaza menjadi atlet lari berprestasi di tingkat nasional, bahkan dunia, menemukan jalannya. Semoga pula ia memahami bahwa podium tertinggi bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Disiplin dalam berlatih, tekun belajar, menjaga kesehatan, dan berani bangkit setelah mengalami kegagalan merupakan kemenangan yang tidak kalah berharga.

Pada akhirnya, keluarga tidak hanya berharap melihat Gaza berlari paling cepat atau berdiri di podium pertama. Lebih dari itu, keluarga ingin menyaksikan tumbuhnya seorang pemuda yang mandiri, berkarakter, dan mampu memperjuangkan cita-citanya dengan sungguh-sungguh.

https://youtube.com/shorts/WR96uM_kTUU?si=N96nH_lDxgRYH9R_

Selamat Ulang Tahun Kakak Gaza, dokpri