Science advances not by blind obedience to old answers, but by the courage to question
[chorus]
Air tak pernah bertanya apa pun
Siapa salah atau siapa menjaga
Ia datang menghapus peta dan cerita
Kami hanyalah manusia yang membangun kembali
Dari puing-puing tempat suara kami berseru
Di dunia yang tenggelam dalam ingatan
[chorus]
Air tak pernah bertanya apa pun
Kini mengetuk akal dan kesadaran
Bukan untuk menakut-nakuti, namun mengingatkan
Jika kita ingin esok tetap bernama
Bukan sekadar lolos dan selamat
Maka dengarkanlah sebelum terlambat
Sebelum dunia tenggelam oleh bebannya
[outro]
------
Grand Concept
“Air Tak Pernah Bertanya” adalah narasi musik sinematik tentang perjalanan manusia menghadapi bencana banjir sebagai cermin kelalaian kolektif. Musik bergerak dari keheningan yang mengancam, menuju kepanikan dan kehilangan, lalu berakhir pada kesadaran dan pilihan. Air digambarkan bukan sebagai musuh, melainkan kekuatan netral yang meruntuhkan status, ego, dan ilusi kendali manusia. Di tengah runtuhnya rumah, peta, dan masa depan, musik menyoroti jarak antara angka di layar dan nyawa di lapangan, hingga akhirnya menghadirkan harapan rapuh: bahwa masa depan hanya dapat diselamatkan jika manusia mau mendengar, mengingat, dan berubah sebelum segalanya kembali tenggelam.