Feddy WS
Feddy WS Dosen

Science advances not by blind obedience to old answers, but by the courage to question

Selanjutnya

Tutup

Video

'Ketika Cinta Jadi Racun'

1 Februari 2026   17:49 Diperbarui: 1 Februari 2026   18:00 95 1 0

Ketika Cinta Jadi Racun. Created by [Feddy WS]. Human-led, AI-assisted visual artwork.
Ketika Cinta Jadi Racun. Created by [Feddy WS]. Human-led, AI-assisted visual artwork.


[Recommended Headphones or Car Audio]

Ketika Cinta Jadi Racun - [YouTube]

[intro] 
Aku datang dengan percaya  
Kupikir kau tempat pulang  
Ternyata pelukmu pelan  
Mengajarkanku tentang kehilangan  

[verse]  

Kau bilang aku segalanya  
Lalu kau atur langkahku  
Setiap tanya jadi salah  
Setiap diam jadi bukti bisu  

[verse]  
Kau sebut takut itu cinta  
Kau sebut luka itu wajar  
Aku bertahan demi kita  
Sampai aku lupa caraku bernapas  

[pre-chorus]  
Mereka bilang aku berubah  
Tak tahu aku sedang terkikis  

[chorus]  
Ketika cinta jadi racun  
Manis di awal pahit di akhir  
Aku hilang di dalam pelukan  
Yang katanya melindungi  
Jika cinta harus menghancurkan  
Biarlah aku belajar pergi  

[verse]  
Kupeluk sepi tiap malam  
Menyalahkan diriku sendiri  
Padahal bukan aku yang rusak  
Hanya terlalu lama berharap  

[chorus]  
Ketika cinta jadi racun  
Aku memilih sembuh perlahan  
Melepas genggaman yang salah  
Demi jiwaku yang tertahan  

[outro]  
Kini aku pulang ke diriku  
Tanpa takut tanpa ragu  
Karena cinta yang sejati  
Tak pernah jadi racun bagiku

------

"Cinta yang merusak identitas bukanlah cinta, melainkan racun yang dibungkus dengan manis."

"Cinta yang Seharusnya Menjadi Rumah, Berubah Menjadi Racun yang Mengikis Diri"

Lagu "Ketika Cinta Jadi Racun" mengangkat perjalanan emosional seseorang yang masuk ke hubungan dengan kepercayaan penuh, namun perlahan kehilangan dirinya sendiri karena cinta yang mengontrol, membungkam, dan memanipulasi atas nama perhatian dan perlindungan. Di awal, cinta terasa manis dan aman, seperti rumah tempat pulang. Namun tanpa disadari, pelukan itu berubah menjadi jerat halus-tidak memukul, tidak berteriak, tapi mengikis identitas secara perlahan. Setiap pertanyaan dianggap salah, setiap diam dijadikan bukti, hingga korban mulai menyalahkan diri sendiri dan percaya bahwa luka adalah harga dari cinta.

Puncaknya, sang tokoh menyadari bahwa:

"Cinta sejati tidak pernah menuntut seseorang kehilangan dirinya."

Keputusan untuk pergi bukan bentuk kekalahan, melainkan tindakan penyelamatan diri. Pulang ke diri sendiri menjadi simbol pemulihan, keberanian, dan kematangan emosional-bahwa mencintai diri sendiri adalah fondasi dari cinta yang sehat.