Science advances not by blind obedience to old answers, but by the courage to question
![Ketika Cinta Jadi Racun. Created by [Feddy WS]. Human-led, AI-assisted visual artwork.](https://assets.kompasiana.com/items/album/2026/02/01/1-feb-2026-16-44-33-697f213334777c6bde4e8713.png?t=o&v=700)
[Recommended Headphones or Car Audio]
Ketika Cinta Jadi Racun - [YouTube]
[intro]
Aku datang dengan percaya
Kupikir kau tempat pulang
Ternyata pelukmu pelan
Mengajarkanku tentang kehilangan
[verse]
Kau bilang aku segalanya
Lalu kau atur langkahku
Setiap tanya jadi salah
Setiap diam jadi bukti bisu
[verse]
Kau sebut takut itu cinta
Kau sebut luka itu wajar
Aku bertahan demi kita
Sampai aku lupa caraku bernapas
[pre-chorus]
Mereka bilang aku berubah
Tak tahu aku sedang terkikis
[chorus]
Ketika cinta jadi racun
Manis di awal pahit di akhir
Aku hilang di dalam pelukan
Yang katanya melindungi
Jika cinta harus menghancurkan
Biarlah aku belajar pergi
[verse]
Kupeluk sepi tiap malam
Menyalahkan diriku sendiri
Padahal bukan aku yang rusak
Hanya terlalu lama berharap
[chorus]
Ketika cinta jadi racun
Aku memilih sembuh perlahan
Melepas genggaman yang salah
Demi jiwaku yang tertahan
[outro]
Kini aku pulang ke diriku
Tanpa takut tanpa ragu
Karena cinta yang sejati
Tak pernah jadi racun bagiku
------
"Cinta yang merusak identitas bukanlah cinta, melainkan racun yang dibungkus dengan manis."
"Cinta yang Seharusnya Menjadi Rumah, Berubah Menjadi Racun yang Mengikis Diri"
Lagu "Ketika Cinta Jadi Racun" mengangkat perjalanan emosional seseorang yang masuk ke hubungan dengan kepercayaan penuh, namun perlahan kehilangan dirinya sendiri karena cinta yang mengontrol, membungkam, dan memanipulasi atas nama perhatian dan perlindungan. Di awal, cinta terasa manis dan aman, seperti rumah tempat pulang. Namun tanpa disadari, pelukan itu berubah menjadi jerat halus-tidak memukul, tidak berteriak, tapi mengikis identitas secara perlahan. Setiap pertanyaan dianggap salah, setiap diam dijadikan bukti, hingga korban mulai menyalahkan diri sendiri dan percaya bahwa luka adalah harga dari cinta.
Puncaknya, sang tokoh menyadari bahwa:
"Cinta sejati tidak pernah menuntut seseorang kehilangan dirinya."
Keputusan untuk pergi bukan bentuk kekalahan, melainkan tindakan penyelamatan diri. Pulang ke diri sendiri menjadi simbol pemulihan, keberanian, dan kematangan emosional-bahwa mencintai diri sendiri adalah fondasi dari cinta yang sehat.