Feddy WS
Feddy WS Dosen

Science advances not by blind obedience to old answers, but by the courage to question

Selanjutnya

Tutup

Video

'Dijodohkan Lewat Tablet'

13 Februari 2026   00:30 Diperbarui: 13 Februari 2026   00:35 106 3 2

Tekanan Darah dan Tekanan Sosial Naik Bersamaan. Illustration: [Feddy WS] (AI-assisted)
Tekanan Darah dan Tekanan Sosial Naik Bersamaan. Illustration: [Feddy WS] (AI-assisted)


[Recommended Headphones or Car Audio]

Dijodohkan Lewat Tablet

[intro]  

[verse]  
Dum dum dum notifikasi datang  
Bukan kerjaan tapi panggilan sayang  
Katanya ada calon mirip artis sinetron  
Padahal sinyalnya nyangkut di balkon  

[verse]  
Ibu tersenyum tante ikut heboh  
Ayo Nak senyum biar rezeki jodoh  
Kue nastar tersaji teh manis saksi  
Aku canggung di tengah investigasi  

[pre-chorus]  
Tablet diangkat wajah samar  
Katanya manis ya manis filter  
Grup WA rame doa harapan  
Aku mikir bisa kabur pelan  

[chorus]  
Dijodohkan lewat tablet sinyal naik turun cepat  
Ibu bilang klik hati tapi hatiku hang sejenak  
Cinta buffering wajah loading  
Mungkin jodohku masih di-setting  
Dijodohkan lewat tablet cinta versi Wi-Fi lelet  

[verse]  
Tante bilang cocok dia suka kucing juga  
Padahal aku alergi nasib tragikomika  
Profilnya manis chat-nya formal  
Kayak HRD wawancara moral  

[pre-chorus]  
Tablet diangkat wajah samar  
Katanya manis ya manis filter  
Grup WA rame doa harapan  
Aku mikir bisa kabur pelan  

[chorus]  
Dijodohkan lewat tablet sinyal naik turun cepat  
Ibu bilang klik hati tapi hatiku hang sejenak  
Cinta buffering wajah loading  
Mungkin jodohku masih di-setting  
Dijodohkan lewat tablet cinta versi Wi-Fi lelet  

[outro]

------

Core Idea

"Dijodohkan Lewat Tablet" adalah sebuah lagu komedi-satir yang menggambarkan perjodohan modern di era Wi-Fi, ketika cinta, teknologi, dan tekanan sosial bertabrakan dalam satu ruang tamu keluarga. Melalui kisah absurd seorang pria muda yang dijodohkan lewat tablet di tengah ibu-ibu antusias, teh manis, dan notifikasi grup WhatsApp, lagu ini menyoroti fenomena bagaimana "takdir cinta" kini bergantung pada kekuatan sinyal dan restu keluarga yang sering kali lebih kuat daripada algoritma. Dengan gaya lirik yang jenaka namun reflektif, "Cinta Buffering di Era Digital" tidak hanya bercerita tentang praktik perjodohan, tetapi juga menjadi sindiran lembut terhadap budaya digital yang menjadikan cinta proyek bersama antara ibu, teknologi, dan ekspektasi sosial. Di balik kelucuannya, tersimpan pesan hangat bahwa cinta sejati kadang muncul bukan karena diatur, disetujui, atau di-match-kan, melainkan hadir alami - lewat tawa sederhana di ruang tamu yang penuh harapan.

Label: perjodohan zaman sekarang