Science advances not by blind obedience to old answers, but by the courage to question
![Di Bawah Bulan yang Menggenggam Rahasia. Illustration: [Feddy WS] (AI-assisted)](https://assets.kompasiana.com/items/album/2026/02/16/feb-16-2026-06-07-28-am-699243c4c925c478f65e8102.png?t=o&v=700)
[Recommended Headphones or Car Audio]
Bahasa yang Tak Bernama
[intro]
Di ambang senyap bulan menggenggam rahasia
Angin menulis doa di punggung samudra
Bayang-bayang berbisik tanpa suara
Menyulam tanda di dada semesta
[verse]
Aku pasir di jam waktu yang bergulir
Jatuh perlahan tak pernah bisa kembali
Kau matahari di balik kabut kelam
Menghanguskan luka yang membeku dalam
[verse]
Burung hitam terbang melintas cakrawala
Membawa pesan dari tanah tak bernama
Lilin kecil di altar malam sunyi
Menyala walau diterpa badai pergi
[pre-chorus]
Di antara retak kaca dan cahaya
Ada makna yang takkan pernah binasa
[chorus]
Kita bahasa yang tak ternama
Terjemah hujan di musim kemarau
Kita rahasia di balik angka
Jejak bintang di langit nan jauh
Jika dunia hanya bayangan semu
Cinta simbol yang abadi terus
[verse]
Langkah-langkah di lorong waktu
Menggema tanpa suara rindu
Di telapak tangan garis takdir
Berbelok seperti sungai terakhir
[chorus]
Kita bahasa yang tak ternama
Terjemah hujan di musim kemarau
Kita rahasia di balik angka
Jejak bintang di langit nan jauh
Jika dunia hanya bayangan semu
Cinta simbol yang abadi terus
[outro]
Saat fajar meminum sisa gelap
Simbol-simbol luruh tapi makna melekat
Dalam napas yang tak terucap
Kita abadi tak pernah sirna rahasia
------
Core Idea
“Bahasa yang Tak Bernama” adalah refleksi tentang cinta sebagai sistem makna terakhir dalam dunia yang fana dan retak; ketika realitas hanyalah bayangan sementara, cinta menjelma “bahasa kosmik” yang tak bisa diberi nama namun selalu dirasakan. Dunia digambarkan luas, sunyi, dan metafisik—bulan, angin, dan samudra menjadi simbol alam semesta yang tak berbicara langsung, sementara manusia hanyalah pasir di jam waktu yang bergulir, kecil dan sadar akan kefanaannya. Di tengah itu hadir kontras antara retak kaca dan cahaya, burung hitam sebagai pesan dari dimensi lain, serta lilin kecil sebagai harapan yang rapuh namun nyata. “Kita bahasa yang tak ternama” menjadi deklarasi bahwa cinta bukan sekadar perasaan, melainkan sistem makna kosmik; dunia boleh semu, tetapi cinta adalah simbol abadi, bahasa yang tak pernah sepenuhnya dapat diterjemahkan oleh kata. Ia bukan lagu cinta biasa, melainkan perenungan tentang metafisika hubungan manusia dengan makna.