Hobiku adalah editing foto, atau leih tepatnya kalo di organisasi menjadi pdd abadi, konten favoritku yaitu bikin cinematic dan politik.
Desa Ngemboh memiliki kondisi perairan laut dangkal dengan arus yang relatif tenang, sehingga potensial untuk budidaya kerang hijau. Namun, masyarakat masih banyak menggunakan metode tancap bambu yang rentan terhadap perubahan kondisi perairan dan cuaca ekstrem.
Salah satu kendala yang dihadapi adalah risiko kematian kerang akibat masuknya air tawar serta kerusakan konstruksi ketika musim barat. Kondisi tersebut dapat mengganggu proses budidaya dan menurunkan hasil panen nelayan.
Menjawab persoalan tersebut, PPK Ormawa DPM FIP UNESA mengembangkan Long Line Apung, sebuah teknologi tepat guna yang dirancang sebagai alternatif dari metode budidaya konvensional. Sistem apung memungkinkan konstruksi mengikuti dinamika perairan sehingga lebih adaptif terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Selain aspek ketahanan konstruksi, Long Line Apung dirancang sebagai sistem budidaya terintegrasi. Dalam satu rangkaian, media budidaya kerang hijau dapat dipadukan dengan bubu tangkap ikan, sehingga satu instalasi dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan lebih dari satu komoditas.

Pengembangan Long Line Apung juga ditargetkan dapat meningkatkan produktivitas budidaya hingga 30% dibandingkan metode konvensional. Bagi nelayan, inovasi ini tidak hanya berkaitan dengan perubahan metode budidaya, tetapi juga dengan upaya menekan risiko produksi dan menambah potensi pendapatan dari pemanfaatan satu media budidaya.
Melalui Long Line Apung, PPK Ormawa DPM FIP UNESA membawa inovasi teknologi budidaya yang disesuaikan dengan karakteristik perairan dan kebutuhan nelayan Desa Ngemboh.