PNS pada Satuan Polisi Pamong Praja di Kab. Barito Utara Kalimantan Tengah. Inisiator Komunitas Beras Berkah di Muara Teweh Kalteng dan Ketua Yayasan Beras Berkah Muara Teweh.
Ramadan demi Ramadan kita, terutama pemburu takjil di Kalimantan membeli kue basah seperti kue lapis, Amparan Tatak, Sari India, Kararaban, Hula-Hula, Kue Lam, dan lain lain.
Kue-kue itu dijajakan di lapak-lapak penjual takjil lengkap dengan wadahnya berupa Ceper. Ceper berbentuk lingkaran besar, dengan ceper kue-kue itu dimasak, setelah masak dan didinginkan dibawa ke lapak-lapak penjual takjil.

Kue akan dipotong di ceper, sehingga kue berbentuk segi tiga. Potongan kue bisa menyesuaikan anggaran pembeli, bisa juga sudah dipotong habis sama besar/tebalnya dan dijual dengan harga yang pasti.
Saya sempat iseng-iseng bertanya kepada beberapa pembuat kue-kue basah tradisional tersebut, sekian puluh tahun membuat kue, kenapa tidak terpikirkan membuat ceper segi empat sehingga memotong dan menjualnya lebih mudah dengan besaran yang lebih pas?
Ternyata, bentuk lingkaran menyesuaikan panci besar yang digunakan untuk mengukus kue-kue tersebut. Bila ceper segi empat, lalu dimasukan ke panci yang melingkar akan banyak ruang kosong yang tidak termanfaatkan, sehingga kurang ekonomis.
Bila diperhatikan di sisi luar ceper ada semacam telinga, kaitan yang digunakan untuk mengangkat ceper keluar dari panci. Jarak antara sisi panci dengan sisi ceper masih memberi ruang kira-kira tiga cm untuk ruang pengait ceper, agar memudahkan mengangkat kue ketika sudah masak.
Semoga kue-kue tradisional yang dimasak dan disajikan dengan ceper tetap eksis dan menjadi pilihan anak muda sehingga kue kue tersebut tetap awet dan lestari sebagai bagian dari kekayaan kuliner nusantara.