KAKEK yang hobi menulis hanya sekedar mengisi hari-hari pensiun bersama cucu sambil melawan pikun.

Pada Minggu pagi yang sejuk karena pada waktu Subuh itu Kota Serang diguyur hujan, penulis masih sempat berkunjung ke Masjid Agung Kota Serang yang dikenal dengan nama Masjid Agung Ats-Tsauroh.
Dahulu masyarakat di sana menyebutnya dengan nama Masjid Pegantungan. Mungkin karena letaknya ada di Jalan Maulana Yusuf Pegantungan Kota Serang.
Waktu itu pintu masuk ke Masjid tersebut hanya melalui Jalan Maulana Yusuf, tetapi sekarang setelah direnovasi dengan pembuatan Taman maka pintu masuk bisa juga melalui Jalan Veteran di sekitar Alun-alun Kota Serang.
Masjid Agung Serang mulai dibangun oleh Bupati Pandeglang, Rd Tumenggung Basudin Tjondronegoro pada tahun 1870 - 1888 M, dimana Bupati Pandeglang dan Bupati Serang mewakafkan tanah mereka seperti yang ditempati sekarang oleh Masjid Agung Serang ini dengan luas sekitar 2,6 Ha.
Berbeda dengan Masjid Agung Banten yang ada di wilayah Banten Lama sebelah Utara Kota Serang. Masjid Agung Banten adalah makam bagi sejumlah Sultan Banten dan keluarganya, terutama Sultan Maulana Hasanuddin (pendiri Kesultanan Banten), istrinya, serta sultan-sultan penting lainnya seperti Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Maulana Muhammad, dan Sultan Zainul Abidin.
Banyak umat Islam melakukan ziarah ke Masjid Agung Banten di Banten Lama. Makam-makam para sultan ini terletak di area serambi masjid, adalah sosok-sosok yang menjadi saksi sejarah panjang kesultanan Banten.
Kembali ke Masjid Agung Ats-Tsauroh Kota Serang yang pada awalnya dibangun hanya Masjid tanpa menara. Selanjutnya telah mengalami beberapa kali renovasi. Maka pada tahun 1956 Bapak Ayif Usman dan KH. Sochari menyempurnakan bangunan dengan mendirikan menara.
Pada tahun 1968 pada masa bakti Bupati Serang yaitu Letkol H. Suwandi, Masjid itu diberi nama Masjid Ats- Tsauroh yang berarti Masjid Perjuangan.
Renovasi Masjid masih terus dilakukan termasuk pada tahun 1974 dan tahun 1993. Pada tahun 2019-2020 saat pandemi covid19, menurut keterangan Pengurus DKM, Masjid Ats-Tsauroh Kota Serang direnovasi sehingga bangunannya seperti yang sekarang ini.
Namun demikian ciri khasnya tetap dipertahankan yaitu seni arsitektur Jawa dengan bentuk atap limas tumpang tiga yang melambangkan tiga pilar utama dalam Islam, yaitu Iman, Islam, dan ihsan.