AKIHensa
AKIHensa Penulis

KAKEK yang hobi menulis hanya sekedar mengisi hari-hari pensiun bersama cucu sambil melawan pikun.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Si Pejuang Literasi dan Mata yang Enak Dipandang Ahmad Tohari

18 April 2026   09:32 Diperbarui: 18 April 2026   15:17 197 33 19

Buku ini berupa kumpulan cerpen karya Ahmad Tohari antara tahun 1983 dan 1997. Ada 15 cerita pendek yang diterbitkan dalam buku tersebut merupakan cetakan ke-7 pada Januari tahun 2026. 

Ahmad Tohari adalah novelis dan cerpenis yang sangat memahami kehidupan masyarakat bawah. Orang-orang kecil disekitarnya selalu diangkat ke dalam cerita pendek atau novel dengan bahasa yang lugas tanpa basa basi. 

Foto Dokumentasi Pribadi/Hensa17. 
Foto Dokumentasi Pribadi/Hensa17. 

Narasi yang khas dari sosok Ahmad Tohari menjadikan pembaca betah mengikuti setiap alur yang tersaji dalam setiap karyanya baik itu cerpen maupun novel. 

Pada buku kumpulan cerpennya yang berjudul Mata yang Enak Dipandang, saya bisa merasakan kesan narasi kuat dari karakter khas Ahmad Tohari. Judul buku kumpulan cerpen itu juga sekaligus sebagai cerpen pertama yang disajikan pada halaman pertama. 

Membaca cerpen ini kita diajak untuk merasakan penderitaan lelaki bernama Mirta seorang pengemis buta yang sering mangkal di depan sebuah stasiun kereta api. 

Mirta berteman dengan Tarsa yang juga penuntunnya yang sering memerasnya untuk kebutuhan makan dan minum Tarsa. Seperti siang itu Mirta dibiarkan berdiri di trotoar kepanasan tak berdaya. Baru Tarsa menuntunnya ke tempat teduh dengan imbalan segelas es limun. Pemerasan segelas es limun itu bukan yang pertama. 

Ketika uang hasil mengemis itu ludes, Tarsa kembali memaksakan kehendaknya untuk mengemis di stasiun kereta api itu. Tapi Mirta tidak mau karena kelelahan akibat kepanasan berjam-jam. 

Kereta yang baru datang itu adalah kereta eksekutif yang menurut Mirta para penumpangnya pelit-pelit. Berbeda dengan penumpang kereta ekonomi yang penumpangnya bermata  yang enak dipandang dan ramah dalam memberi. 

Tarsa menyerah ketika dia tidak berhasil mengajak Mirta beranjak dari tempat duduknya di tempat panas itu. Tarsa tetap mebiarkan Mirta di sana kepanasan. 

Ketika kereta ekonomi masuk stasiun, Tarsa kembali berlari mengajak Mirta untuk mengemis pada penumpang yang matanya enak dipandang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3