Ikrom Zain
Ikrom Zain Tutor

Hanya seorang pribadi yang suka menulis. Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Video Artikel Utama

Kembang Kempis UKM Kerupuk Pasir Khas Kediri

10 Juni 2019   08:19 Diperbarui: 10 Juni 2019   15:05 161 7 1

Ilustrasi. - Dokumentasi pribadi
Ilustrasi. - Dokumentasi pribadi

Mudik lebaran kali ini menyisakan cerita yang cukup berkesan.
Secara langsung, saya membeli oleh-oleh khas Kediri berupa kerupuk pasir atau yang lebih dikenal dengan kerupuk upil. Camilan ini merupakan salah satu makanan khas Kediri selain Tahu Poo atau tahu kuning. 

Biasanya, kerupuk ini dimakan menggunakan sambal pecel/tumpang yang memiliki cita rasa pedas. Jika ingin sensasi lebih, kerupuk ini bisa dimakan bersama sayur bayam, daun manisan, dan kecambah yang juga disiram dengan bumbu pecel/sambal tumpang.

Keluarga saya lebih senang memilih membeli kerupuk ini dibandingkan tahu sebagai oleh-oleh. Alasannya, selain harganya lebih murah, kerupuk ini lebih mudah dibawa di dalam mobil. Tak seperti tahu kuning yang basah dan airnya sering menetes ke mana-mana.

Kamipun membeli langsung kerupuk pasir di pabriknya yang kebetulan berada di rumah salah satu saudara di Desa Pojok, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Desa Pojok dulunya dikenal sebagai sentra industri kerupuk pasir. 

Namun, lambat laun, akibat pasokan bahan baku pati yang semakin menipis dan harganya melonjak, satu per satu pengusaha kerupuk pasir di desa tersebut pun gulung tikar.

Hanya beberapa warga yang masih menekuni usaha ini. Salah satunya saudara saya tadi yang bernama Kang Ju. Beliau meneruskan usaha ini dari orangtuanya. 

Dahulu, saat masih muda, ayah saya juga sempat menjadi karyawan dari usaha milik orangtua Kang Ju ini. Bahkan, sempat pula menjualnya secara eceran di Kota Malang saat ayah baru menikah.

Kini, mengingat sulitnya bahan baku, usaha ini pun kembang kempis. Pemasaran hanya terbatas di daerah sekitar Kecamatan Tarokan, Kecamatan Grogol, dan Kecamatan Banyakan Kabupaten Kediri. 

Kebanyakan, kerupuk ini dijual di pinggir jalan Raya Kediri-Nganjuk yang merupakan jalan penghubung Kediri-Malang dengan Solo. Apabila bahan baku sedang lancar, Kang Ju juga memasok dagangannya di pusat oleh-oleh di sekitar Jalan Dhoho, Kota Kediri.

Saat kejayaannya dulu, menurut Kang Ju, beliau mampu menggoreng kerupuk pasir antara 200-300 kg kerecek (kerupuk yang belum digoreng) setiap harinya. Sekarang, menggoreng kerupuk sebanyak 50 kg saja sudah sangat baik.

Kerupuk-kerupuk ini dijual kemasan seberat 200 g dengan harga 5000 rupiah. Aneka rasa yang diolah untuk menjaga eksistensi dari kerupuk inipun coba untuk dihadirkan. Kalau dulu hanya ada rasa original dan pedas saja, sekarang kerupuk pasir tersedia dalam rasa bawang, terasi, dan rambak.

Saya lebih senang rasa bawang karena aromanya sangat terasa. Kami biasanya membeli langsung kiloan seharga 25.000 rupiah per kg. Tertarik mencoba? Silakan datang ke Desa Pojok Kediri. Letaknya tak jauh dari Pasar Gringging Kediri.