Irfan Ghifari
Irfan Ghifari Mahasiswa

Seorang mahasiswa yang memiliki hobi mendaki gunung dan juga touring menikmati alam Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Video

Transformasi YouTube: Dari Sekadar Platform Video menjadi Ruang Pemenuhan Psikologis Masyarakat Indonesia

4 Januari 2026   23:00 Diperbarui: 4 Januari 2026   22:14 111 1 0

Selain itu, YouTube sering menjadi ruang di mana nilai-nilai nasionalisme dan sejarah dibangun kembali melalui konten dokumenter sejarah Indonesia. Strategi ini sesuai dengan teori Edelman (1988) yang menyatakan bahwa simbol sejarah digunakan untuk membangun legitimasi identitas di masa kini. Hal ini untuk meningkatkan integrasi bangsa di mana penonton merasa lebih berharga dan terhubung dengan jati diri bangsanya.

Selain untuk tontoan, YouTube lebih populer digunakan masyakarat untuk melakukan streaming musik, hal tersebut dibuktikan dari hasil data pencarian yang ada mayoritas masyarakat menggunakan YouTube untuk mendengarkan musik ketimbang menonton tayangan video.

Secara singkat, popularitas YouTube di Indonesia merupakan gabungan antara narasi personal, improvisasi, penyederhanaan informasi, dan pengendalian emosional. Dalam teori komunikasi politik dan media modern, publik semakin menghendaki gaya yang langsung dan mudah dipahami; formalitas berlebih dianggap ketinggalan zaman (Blumler, 2015). YouTube memahami tren ini dengan menyediakan ruang bagi audiens untuk mendapatkan kepuasan (gratification) yang tidak mereka temukan di media lain.

Meskipun demikian, terdapat tantangan di mana retorika hiburan terkadang menutupi substansi informasi yang krusial. Kritik ini mengingatkan pada pandangan Mudde (2004) bahwa komunikasi yang terlalu fokus pada aspek populer dapat menjadi alat pembingkaian yang tidak selalu mencerminkan kompleksitas realitas. Namun, bagi masyarakat Indonesia, YouTube tetap menjadi sarana hiburan utama karena kreatifitas para kreatornya yang mampu memuaskan para penontonya.

Sebagai media hibrida antara hiburan modern dan komunikasi sosial, YouTube memungkinkan publik merasa bahwa suara dan keseharian mereka tidak terputus dari pusat perhatian global. Platform ini berhasil memadukan berbagai pengalaman dengan kecakapan komunikasi para kreator yang efektif, menjadikannya sarana yang humanis, lugas, dan berpihak pada kebutuhan penonton di era media digital saat ini.

Fenomena ini dapat dibedah secara mendalam melalui lensa Teori Uses and Gratifications (U&G), yang menempatkan audiens sebagai subjek aktif yang memilih media demi mencapai tujuan tertentu.

Antara Harapan dan Realita: GS vs GO

Dalam studi komunikasi modern, efektivitas YouTube diukur melalui dua konsep utama: Gratifications Sought (GS) atau kepuasan yang dicari, dan Gratifications Obtained (GO) atau kepuasan yang diperoleh.

  • Gratifications Sought (GS): Merupakan suatu kepuasan yang dicari atau diinginkan seseorang ketika menggunakan suatu jenis media massa tertentu seperti YouTube untuk tertawa, mencari tutorial masak, atau sekadar melepas penat setelah bekerja.
  • Gratifications Obtained (GO): Adalah tingkat kepuasan nyata yang dirasakan seseorang setelah menonton tayangan YouTube tertentu.

Apabila nilai GO lebih tinggi atau setara dengan GS, maka terjadi loyalitas pengguna yang tinggi terhadap YouTube. Fleksibilitas YouTube dalam menyediakan tontonan yang personal menjadikan gap antara harapan dan kenyataan semakin tipis dibandingkan media konvensional.

Oleh: Irfan Ghifari (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Jakarta)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2