Isson Khairul
Isson Khairul Jurnalis

Saya memulai hidup ini dengan menulis puisi dan cerita pendek, kemudian jadi wartawan, jadi pengelola media massa, jadi creative writer untuk biro iklan, jadi konsultan media massa, dan jadi pengelola data center untuk riset berbasis media massa. Saya akan terus bekerja dan berkarya dengan sesungguh hati, sampai helaan nafas terakhir. Karena menurut saya, dengan bekerja, harga diri saya terjaga, saya bisa berbagi dengan orang lain, dan semua itu membuat hidup ini jadi terasa lebih berarti.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Meresapi Inspirasi Indonesia dari Insinyur Soeratin

1 Maret 2026   22:52 Diperbarui: 1 Maret 2026   22:52 96 1 0


Insinyur Soeratin dicatat sejarah sebagai pendiri Persatoean Sepak Bola Seloeroeh Indonesia (PSSI). Negeri ini belum merdeka, tapi Soeratin Sosrosoegondo sudah mendeklarasikan "Indonesia" pada 19 April 1930 di Yogyakarta. Jenius dan strategis.

Insinyur dari Hecklenburg, Jerman.    

Liga Soeratin Jakarta U-15-2026 segera kick off April 2026 di Pancoran Soccerr Field, Jakarta Selatan. Foto: Isson Khairul
Liga Soeratin Jakarta U-15-2026 segera kick off April 2026 di Pancoran Soccerr Field, Jakarta Selatan. Foto: Isson Khairul

Mari sejenak kita resapi jejak Insinyur Soeratin. Agaknya, ini relevan, di tengah hiruk-pikuk perdebatan kaum terpelajar tentang perjalanan negeri ini. Insinyur Soeratin tentulah terpelajar, karena ia lulusan Sekolah Teknik Tinggi di Hecklenburg, dekat Hamburg, Jerman.

Setelah menyelesaikan studinya tahun 1927, Soeratin Sosrosoegondo kembali ke tanah kelahirannya, Yogyakarta. Ia lahir pada 17 Desember 1898. Andai ia hanya memikirkan dirinya sendiri, barangkali ia akan menetap di Jerman, yang tentu lebih menjanjikan bagi kehidupannya.

Namun, ia memilih pulang, meski negerinya masih berstatus tanah jajahan. Dijajah oleh Belanda, yang nasibnya tentu saja jauh dari kepastian. Tiba di Yogyakarta, Insinyur Soeratin diterima bekerja di sebuah perusahaan bangunan milik Belanda di Yogyakarta, Sizten en Lausada.

Sejarah mencatat, Soeratin Sosrosoegondo menjadi satu-satunya anak jajahan, yang duduk di posisi tinggi sejajar komisaris dalam perusahaan itu. Bayangkan, di tahun 1927, ia sudah bersanding dengan kaum ekspatriat di perusahaan yang mentereng.

Karirnya moncer. Ekonominya mapan. Tapi, sekali lagi, Insinyur Soeratin tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia tidak terlena oleh segala kemapanan tersebut. Ia sadar sepenuhnya, bahwa ilmu pengetahuan yang sudah ia raih di Jerman, sudah seharusnya ia gunakan untuk membebaskan negerinya dari penjajahan.

Soeratin Sosrosoegondo pun keluar dari kemapanan tersebut. Kegemarannya pada sepak bola, ia gunakan sebagai jalan rintisan, untuk menggalang persatuan dengan sesama anak jajahan. Soeratin bergerak secara diam-diam, kemudian bertemu dengan sejumlah tokoh di bidang sepak bola di beberapa kota.

Dari berbagai pertemuan tersebut, tumbuh kesadaran bersama untuk  membentuk sebuah organisasi sepak bola dengan cakupan yang lebih luas. Akhirnya, pada 19 April 1930, tokoh-tokoh dari sejumlah organisasi sepak bola berkumpul di Yogyakarta.

Ada Voetbalbond Indonesische Jakarta (VIJ), Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (BIVB), Persatuan Sepak Bola Mataram Yogyakarta (PSM), Vortendlandsche Voetbal Bond Solo (VVB), Madionsche Voetbal Bond (MVB), Indonesische Voetbal Magelang (IVBM), dan Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3