Saya memulai hidup ini dengan menulis puisi dan cerita pendek, kemudian jadi wartawan, jadi pengelola media massa, jadi creative writer untuk biro iklan, jadi konsultan media massa, dan jadi pengelola data center untuk riset berbasis media massa. Saya akan terus bekerja dan berkarya dengan sesungguh hati, sampai helaan nafas terakhir. Karena menurut saya, dengan bekerja, harga diri saya terjaga, saya bisa berbagi dengan orang lain, dan semua itu membuat hidup ini jadi terasa lebih berarti.
Bina Mutiara FC melawan Farama FC, menjadi partai pembuka Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2026. Di bawah terik matahari pukul 10 pagi, yang sudah sangat menyengat, kedua kesebelasan tersebut bertarung sengit. Hawa panas bukan hanya datang dari langit, tapi juga dari lapangan rumput sintetis Pancoran Soccerr Field 1, Jakarta Selatan.

Laga pada Sabtu, 6 Juni 2026 ini, ibarat partai final, ketika Bina Mutiara FC melawan Farama FC di lapangan yang sama, pada Rabu, 12 November 2025 musim lalu. Ketika itu, Bina Mutiara dan Farama sama-sama memperebutkan ranking 1 untuk menjadi pemuncak Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2025.
Di musim lalu, Bina Mutiara sukses sebagai pemuncak dan Farama di ranking 2. Pada Sabtu, 6 Juni 2026 ini, sebagian pemain Bina Mutiara dan Farama, adalah juga pemain yang sama, yang berlaga di musim lalu. Makanya, sejak awal pertandingan, situasi di lapangan langsung sengit.
Kedua klub sama-sama penuh percaya diri untuk memenangkan partai pembuka Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2026 ini. Prestasi yang mereka raih di musim lalu, tentu saja menjadi pemicu yang kuat untuk tampil dengan performa terbaik.
Aef Berlian selaku coach Bina Mutiara, menyadari, tim asuhannya tidak bisa tampil maksimal, karena ada beberapa pemain yang belum sepenuhnya siap berlaga. Mereka terpaksa diturunkan di laga Sabtu, 6 Juni 2026 ini, karena ada beberapa pemain yang belum pulih dari cidera.
Meski demikian, Bina Mutiara berhasil menunjukkan taringnya, dengan mencetak 1 gol di menit ke-20 babak pertama. Hingga laga berakhir dalam durasi 70 menit tersebut, kedudukan tetap 1-0 untuk kemenangan Bina Mutiara.
Adalah Ahmad Mufti Gunawan dengan nomor punggung 10, yang berhasil menyarangkan si kulit bundar ke gawang Farama, yang dijaga ketat oleh Azmi Surya Alfarizi bernomor punggung 1. Upaya untuk melakukan gol balasan, tak kunjung membuahkan hasil. Terutama, karena chemistry klub Bina Mutiara lebih unggul dibanding Farama.
Di satu sisi, Aef Berlian tidak puas dengan penampilan anak-anak asuhnya. Menurutnya, Bina Mutiara harusnya mampu mencetak lebih dari 1 gol. Di sisi lain, Aef Berlian pun memahami, Farama adalah klub yang kuat, yang tidak mudah untuk ditaklukkan.
Di jeda setelah babak pertama, Hilman Akbar selaku coach Farama, berupaya membangkitkan semangat anak-anak asuhnya, yang terpukul secara mental, karena sudah kecolongan 1 gol. Nampaknya, semua tak menyangka, hal itu terjadi.