Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Cengdungceng...dungcengdungceng....irama pengiring barongsai membuat aku terbirit-birit menuju arah suara. Tidak sekedar tertarik dan antusias ingin menyaksikan pertunjukan Barongsai tapi juga ingin merekam nya.
Tiap ada momen istimewa, menarik minatku untuk meliputnya. Tak terasa, di 16 tahun Kompasiana ini aku sudah menulis artikel seribu lebih. Lebih suka artikel liputan, sebab lebih autentik dan bisa dipertanggungjawabkan. Meski bagi sebagian orang, ada yang menganggap tulisan seperti itu terkadang subyektif dan dianggap artikel curhat tak bermutu.
Ada yang beranggapan artikel berkualitas adalah artikel ilmiah dengan dasar ilmu dengan banyak kepustakaan yang mengenyangkan dan bermanfaat bagi pembacanya, meski terkadang membosankan. Mungkin begitu juga pendapat admin Kompasiana. Nggak masalah, yang penting aku enjoy menyalurkan hobi dan bisa menyampaikan informasi.
Kompasianer baru biasanya kompasianer berkualitas dengan tulisan penuh pengetahuan baru dan kreatif tanpa spesifikasi dengan bantuan AI. Tentunya ini menggembirakan. Meski dari segi keaslian tentu kalah jauh dari artikel curhat yang eksklusif dan tidak akan pernah sama. Eh.... Kok berasa menyentil. Nggak sih, biasa saja kali. Memang begitulah dinamika penulisan. Nikmati saja menulis dengan merdeka. Hahaha...
"Minggir... minggir..ini jalan ya, beri tempat untuk yang mau lewat!" Eh..baru sadar. Lagi asyik merekam kok malah melamun. Di tengah jalan, lagi. Hehehe..

Yuk kita kembali mengamati grup kesenian barongsai yang spill sedikit penampilannya dalam menyertai kirab santri kali ini.
Sebenarnya nanti siang grup kesenian barongsai ini baru akan tampil di Pondok Pesantren Mekar Agung, Puh Beluk. Desa Pucanganom, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun. Lanjut penampilan grup kesenian reog Ponorogo. Berhubung siang ini Aku ada acara bersama Mamah-Mamah RT 11 healing ke Umbul, pastinya Aku senang banget waktu mendengar musik pengiring barongsai terdengar dari rumah.
Tanpa berpikir dua kali, aku langsung jemput bola ke lokasi kirab sedang berjalan. Kalau menunggu sampai lewat jalan dekat rumah, pastinya terlambat berangkat healing.
