Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Suasana hajadan begitu kental dan menarik dengan segala tata cara dan pernak-pernik nya. Hiasan terop yang unik terlihat di beberapa tempat, sebagai cirikhas hajadan dalam masyarakat Jawa.
Doa sudah selesai dipanjatkan, tapi Saya dan suami baru datang.
"Ayo, langsung masuk saja, mungkin teman-teman sudah menunggu di dalam!" Ajak suamiku untuk langsung saja mengikuti acara yang sedang berlangsung.

Saat ini, Bu Yuni teman suami sedang menggelar hajadan ngunduh mantu, putra keduanya, Mas Jalu. Ada 2 sesi undangan, dari jam 10.00-12.00 dan sesi kedua jam 12.00-14.00.
Suami saya bersama teman-temannya alumni D3 Biologi IKIP Surabaya tahun 1984 juga diundang pada pukul 12.00. Jadi bisa pilih ikut sesi pertama atau kedua. Biasanya kita datang bersama -sama. Tadi suami sudah konfirmasi, teman -teman memilih sesuai pertama, agar pukul 12.00 sudah selesai.

Berhubung kami kemarin ada acara , dan rumah kami masih sama-sama di Madiun, jadi kami tidak ikut menginap bersama teman-teman. Kami langsung berangkat dari rumah menuju lokasi hajadan sambil berjanji ketemu di tempat. Kita kan tetangga satu kota, tapi bukan tetangga yang toxic ya, hehehe.
Sepertinya umumnya hajadan, kami segera mengisi buku tamu, diberi cindera mata dan memasukkan amplop di kotak yang disediakan.

Selanjutnya kami dipersilakan duduk menunggu sebentar untuk foto booth. Ini sesi yang unik dan baru kali ini saya alami.