Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025
Meski begitu, aturan itu juga tidak baku, biasanya kami tetap mudik ke kampung halaman meski yang tinggal di situ generasi yang lebih muda. Beruntung keluarga kami yang tetap tinggal di kampung halaman adalah kakak sulung, jadi sudah sewajarnya kalau adik-adiknya yang "sowan". Mudik ke kampung halaman.
Mudik tahun 2025 adalah mudik dengan formasi lengkap saat anak-anakku sudah bekerja di luar kota dan pernah tidak bisa mudik saat lebaran, dan diganti cuti di waktu lain.
Kesempatan langka ini tentu saja tidak kami sia-sia kan, meski ritual ke pantai tidak kami laksanakan karena cuaca yang tidak mendukung, suasana pantai yang terlalu padat dari berita yang terakses, dan kami masih banyak tamu dari para keponakan dan tetangga.
Usai nyekar dan berkunjung ke kakak sepupu, kami memutuskan untuk makan di luar bersama.

Awalnya kami ingin makan bersama di restoran ikan bakar yang tidak jauh dari rumah. Tapi paginya Kakak sulung baru saja reuni di situ, dan kami juga sudah beberapa kali ke situ, jadi memutuskan untuk memilih restoran lain.
Kakak ipar yang tinggal di Purworejo dan lebih paham kondisi rumah makan di Purworejo merekomendasikan Rumah makan "Satu-satu" yang lokasinya di Sindurjan. Cukup jauh dari rumah, tapi okelah.
Ternyata restoran ini lumayan besar dengan banyak gazebo dan ruang makan. Ada Musala juga, sehingga kami bisa menunaikan salat Maghrib sambil menunggu pesanan disiapkan.
Acara makan bersama dalam formasi lengkap ini semakin sulit dilakukan saat anak-anak mulai dewasa. Jadi acara seperti ini adalah momen langka dan berkesan yang harus dipertahankan saat Idul Fitri menyatukan kehadiran.

Menikmati momen istimewa, bersama keluarga yang istimewa dan suasana yang istimewa juga memberi pengalaman batin bagi anak-anak dan generasi selanjutnya, bahwa kebersamaan adalah momen bahagia yang tak boleh dilewatkan.