Isti  Yogiswandani
Isti Yogiswandani Lainnya

Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Menjemput Rindu yang Tertunda Saat Mudik Dalam Formasi Lengkap

15 Maret 2026   12:24 Diperbarui: 15 Maret 2026   12:24 222 15 8

Menjemput Rindu yang Tertunda Saat Mudik Dalam Formasi Lengkap(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Menjemput Rindu yang Tertunda Saat Mudik Dalam Formasi Lengkap(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Sesungguhnya, semua perjalanan dan pengalaman saat mudik semua berkesan  dengan kisah nya sendiri -sendiri. Pernah mobil mogok, jalan macet, sampai kebersamaan yang manis.

Lebaran 1 tahun lalu adalah mudik yang berkesan karena kami bisa bersama-sama melakukan ritual lebaran dalam formasi lengkap.

Dari Kakak sulung, Aku, Adek ketiga dan keempat, semua datang dalam formasi lengkap bersama keluarga.

Ritual lebaran yang pertama adalah salat Ied. Tapi saat itu formasi belum lengkap, karena adek ketiga berkunjung ke rumah mertua lebih dahulu, dan Aku juga melaksanakan salat Ied di Madiun.

Barulah usai salat Ied kami mudik. Biasanya kami bersilaturahmi bersama -sama ke tempat para sesepuh dan tetangga dekat.

Ritual nyekar bersama dengan keluarga dalam formasi lengkap (Dokumentasi pribadi BIGG family)
Ritual nyekar bersama dengan keluarga dalam formasi lengkap (Dokumentasi pribadi BIGG family)

Saat Lebaran plus 3, barulah kami bisa berkumpul dalam formasi lengkap. Kami bersama -sama nyekar ke tempat Mbah Buyut di Bencorejo sambil bersilaturahmi ke rumah kakak sepupu yang tinggal di dekat situ.

Generasi Ibu sudah habis, karena Ibu yang terakhir meninggal. Setelah itu tinggal generasi kami ke bawah. Membuat kami sudah jadi sesepuh. 

Tapi kebetulan Almarhum Bapak adalah kakak bungsu, dan Ibu adalah anak bungsu, jadi dalam silsilah generasi, kami adalah keluarga termuda yang secara etika sebaiknya lebih baik mengunjungi daripada dikunjungi, itulah aturan dalam adat Jawa. 

Nyekar (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Nyekar (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Meski begitu, aturan itu juga tidak baku, biasanya kami tetap mudik ke kampung halaman meski yang tinggal di situ generasi yang lebih muda. Beruntung keluarga kami yang tetap tinggal di kampung halaman adalah kakak sulung, jadi sudah sewajarnya kalau adik-adiknya yang "sowan". Mudik ke kampung halaman.

Mudik tahun 2025 adalah mudik dengan formasi lengkap saat anak-anakku sudah bekerja di luar kota dan pernah tidak bisa mudik saat lebaran, dan diganti cuti di waktu lain.

Kesempatan langka ini tentu saja tidak kami sia-sia kan, meski ritual ke pantai tidak kami laksanakan karena cuaca yang tidak mendukung, suasana pantai yang terlalu padat dari berita yang terakses, dan kami masih banyak tamu dari para keponakan dan tetangga.

Usai nyekar dan berkunjung ke kakak sepupu, kami memutuskan untuk makan di luar bersama.

Kedai satu-satu Sindurjan Purworejo, usai salat Maghrib (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Kedai satu-satu Sindurjan Purworejo, usai salat Maghrib (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Awalnya kami ingin makan bersama di restoran ikan bakar yang tidak jauh dari rumah. Tapi paginya Kakak sulung baru saja reuni di situ, dan kami juga sudah beberapa kali ke situ, jadi memutuskan untuk memilih restoran lain.

Kakak ipar yang tinggal di Purworejo dan lebih paham kondisi rumah makan di Purworejo merekomendasikan Rumah makan "Satu-satu" yang lokasinya di Sindurjan. Cukup jauh dari rumah, tapi okelah. 

Ternyata restoran ini lumayan besar dengan banyak gazebo dan ruang makan. Ada Musala juga, sehingga kami bisa menunaikan salat Maghrib sambil menunggu pesanan disiapkan.

Acara makan bersama dalam formasi lengkap ini semakin sulit dilakukan saat anak-anak mulai dewasa. Jadi acara seperti ini adalah momen langka dan berkesan yang harus dipertahankan saat Idul Fitri menyatukan kehadiran.

Makan bersama keluarga dengan hidangan nostalgia di Kedai satu-satu Sindurjan Purworejo (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Makan bersama keluarga dengan hidangan nostalgia di Kedai satu-satu Sindurjan Purworejo (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Menikmati momen istimewa, bersama keluarga yang istimewa dan suasana yang istimewa juga memberi pengalaman batin bagi anak-anak dan generasi selanjutnya, bahwa kebersamaan adalah momen bahagia yang tak boleh dilewatkan.

Di sini juga ada hidangan istimewa, yaitu gurami bakar dan gurami lombok ijo. Gurami adalah kenangan bersama Bapak yang selalu abadi, meski beliau sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya.

Bapak dulu memelihara gurami yang bisa ditangkap saat lebaran. Gurami nya banyak, sehat dan besar -besar. Gurami itu bukan untuk dijual, tapi untuk memenuhi konsumsi sendiri yang biasa dipanen saat lebaran untuk dibagi-bagikan dan dikonsumsi sendiri.

Menu gurami yang tidak hanya penuh nostalgia, tapi juga cerita untuk keluarga kami (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Menu gurami yang tidak hanya penuh nostalgia, tapi juga cerita untuk keluarga kami (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Hanya gurami yang beratnya sekitar 2 kg lebih yang ditangkap, yang masih di bawah itu dilepas kembali untuk dipanen saat idul Fitri berikut nya.

Hasil gurami yang selalu berkesinambungan dan menjadi menu wajib bertahun-tahun selama lebaran.

Tapi kini, Bapak telah tiada, dan kakak sulung yang menggantikan memelihara gurami untuk ditangkap saat kami berkumpul di momen lebaran, meski tidak sebanyak dan sebesar dulu.

Kini, di kedai satu-satu ini, kami pesan menu gurami, bukan sekedar dinikmati, tapi ada kenangan dan nostalgia tak terlupa yang terus hidup dalam memori kamu, keluarga besar BIGG family.

Yuk abadikan dalam video berikut.


#Event

# Blogcompetition 

#Ramadan bercerita 2026

#Ramadan bercerita 2026 hari 26

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3