Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Malam ini, malam Minggu di RT 11 Desa Krandegan Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun ada sesuatu yang istimewa. Di halaman Musala RT 11 diadakan acara Suran.
Sedang ditinjau dari kacamata Islam, bulan Suro bertepatan dengan bulan Muharram yang merupakan awal bulan tahun hijriah yang merupakan momen Hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah.
Berasal dari kata Suro dan akhiran -an, Suran adalah tradisi Jawa mengadakan selamatan di bulan suro untuk memohon keselamatan lahir batin, dunia akherat pada sang Maha Agung. Begitulah kira-kira yang diuraikan oleh Bu RT tentang makna dan tujuan diadakannya acara Suran ini.
Di samping itu, acara seperti ini juga bisa menambah keakraban dan kerukunan warga. Dengan sering bertemu dan berinteraksi kita bisa tahu kabar masing-masing dan membuat hubungan antar tetangga di satu RT lebih dekat dan akrab.

Seperti biasanya, kita para mamah saweran membawa kelengkapan buceng atau tumpeng. Bu RT membawa ayam, ada yang membawa buah, ada yang membawa gorengan dari tahu pisang tempe, molen, onde-onde, dan jajanan lainnya. Ada yang membawa oseng kates yang menjadi primadona, segar dan pedas. Pokoknya lengkap.
Bu Anam membuat buceng golong. Buceng Golong nasi putih itu seperti nasi ambeng, tapi nasinya dibentuk bulat dan berjumlah 7 buah.
Buceng Golong ini mempunyai filosofi:
1. Kebulatan tekad
Nasi yang dibentuk bulat (digolong) melambangkan tekad yang bulat, kesatuan hati, dan pikiran yang fokus dalam mencapai suatu tujuan.