Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Usai menata tenda, salat, dan makan siang yang telat, saya dan suami mulai bisa bersantai dan duduk-duduk
Di sebelah ada Camper dari Jogja, Om Elvis dan Tante Lena bersama keluarga. Sedikit di kejauhan ada Om dokter Budi juga bersama keluarga. Yang baru datang ada Om Agus dari Jogja bersama istri. Ada juga Om Rizal dan keluarga yang baru datang dan memperkenalkan diri.
Di trap bawah, ada keluarga Om Dwi bersama orang tua dan keluarga iparnya ada 3 mobil sekaligus dalam satu rombongan besar.
Sempat lupa, ternyata tenda kita pernah berhadapan saat camping di Wonolelo beberapa waktu yang lalu.
Bosan mengobrol, sambil duduk-duduk di kursi camping yang kami bawa, Saya dan suami memutuskan untuk naik dan mengambil pesanan kaos di atas. Sekretariat dan teman-teman CVI memang sebagian besar di atas.

Entah karena perjanjian booking nya tidak jelas atau bagaimana, peserta Campber justru terpisah di beberapa tempat.
Malah di atas sudah penuh karena waktu dan tempatnya bersamaan dengan komunitas lain, sehingga untuk CVI terpencar ke mana-mana.
Jarak ke atas cuma sekitar 300-500 m. Untuk medan datar, mungkin ini jarak yang dekat. Tapi untuk tempat yang menanjak, perjalanan ini cukup membuat ngos-ngosan.
Alhamdulillah, sebelum nafas habis sudah terlihat tenda-tenda yang tertata rapi dan keriuhan yang cukup bising. Ternyata beda komunitas yang sedang mengadakan acara permainan atau pertandingan olah raga.
"Di sini masih banyak satwa liar ya, Pak?" Tanya suami pada petugas pengawas air di lokasi perkemahan Taman Nasional Spekta Merbabu.
" Tadi ada sekelompok burung di pohon besar itu lho Pak!"
"Sepertinya ayam hutan. Di sini bisa berkembang biak dengan baik ya, Pak?" Suami saya melanjutkan.
"Iya, Pak. Satwa di sini dilindungi. Malah kawanan monyet juga banyak!"

"Waduh! Aku terperanjat. Nggak lucu kan kalau tiba-tiba monyet masuk tenda dan ngembat pernak-pernik yang ditinggal di atas meja lipat. Hehehe...Mungkin resiko liburan minim budget dan minim gadget seperti ini ya, harus berbagi tempat dengan satwa yang dilindungi di taman Nasional gunung Merbabu ini.
"Tapi saya belum pernah melihat seekor monyet pun sejak tadi awal datang, Pak!" Aku agak tidak percaya kalau di sini masih banyak kawanan monyet.
"Kalau ada keramaian seperti acara camping, monyet nya menyingkir!"
"Menyingkir ke mana, Pak?"
"Biasanya ke ladang-ladang penduduk, menyerang tanaman yang bisa dijadikan makanan!"
"Walah, mengganggu dan merusak, kalau gitu Pak!"
"Iya!"
Saya masih ingin banyak bertanya, tapi bapak petugas sudah berlalu dengan cepat, mungkin mau mengecek dan mengawasi ketersediaan air di tempat lain.
Sampai di atas, kami menuju sekretariat panitia untuk mengambil pesanan kaos di Om Bagus. Suami sempat menanyakan lokasi tenda peserta dari Madiun, tapi Om Bagus kurang paham dan menyarankan naik lagi karena di atas masih banyak tenda peserta.

Di atas ada Musala dan cafe serta kolam renang yang kering sebagian. Mungkin hemat air.
Akhirnya ketemu juga rombongan Om Sus, Om Cherry dan Om Amin beserta keluarga.
Kita kemudian turun bareng, karena Om Sus dkk juga ingin jalan -jalan ke bawah.
Ketemu juga dengan tenda Abah Aan, yang Tante justru hafal dan melambai ke arahku.ng kenal. Alhamdulillah, ternyata peserta banyak yang kenal.

Yuk kita lanjut ke bawah untuk mandi dan persiapan salat Maghrib.