Daur Ulang "Mbah Keng" inovasi pupuk organik cair ramah lingkungan.
Setiap musim kelengkeng tiba, kita disuguhi buah yang manis, segar, dan menjadi favorit banyak orang.
Namun, setelah buahnya habis dinikmati, kulitnya hampir selalu berakhir di tempat sampah.
Padahal, di balik tumpukan limbah kulit kelengkeng tersebut tersimpan potensi besar yang dapat dimanfaatkan menjadi produk ramah lingkungan, yaitu pupuk organik cair (POC).
Berangkat dari pemikiran sederhana itulah lahir inovasi "Mbah Keng", singkatan dari Limbah Kulit Kelengkeng.
Inovasi ini mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna menjadi pupuk organik cair yang mampu menyuburkan tanaman sekaligus mengurangi timbunan sampah organik.
Di Indonesia, sampah organik masih mendominasi komposisi sampah rumah tangga.
Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut akan membusuk di tempat pembuangan akhir dan menghasilkan gas rumah kaca.
Sebaliknya, apabila diolah melalui proses fermentasi, limbah organik dapat kembali ke alam sebagai sumber nutrisi bagi tanaman.
Inilah konsep ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan kembali limbah agar memiliki nilai tambah dan tidak menjadi pencemar lingkungan.
Kulit kelengkeng mengandung bahan organik seperti serat, karbohidrat, dan berbagai senyawa alami yang dapat menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme selama proses fermentasi.
Dengan bantuan bioaktivator, senyawa kompleks tersebut akan diuraikan menjadi bentuk yang lebih sederhana sehingga menghasilkan pupuk cair yang bermanfaat bagi tanaman.
Prinsip ini serupa dengan berbagai penelitian yang memanfaatkan limbah kulit buah sebagai bahan baku pupuk organik cair.