Dulu aku kemasan karton minuman, solusi daur ulang ramah lingkungan berkelanjutan.
Pernahkah kita membayangkan jika sebuah kemasan karton minuman bisa berbicara?
Mungkin ia akan berkata, "Dulu aku hanya pembungkus susu atau jus. Setelah isinya habis, aku dibuang begitu saja. Padahal aku masih bisa memiliki kehidupan kedua."
Kalimat sederhana itu sebenarnya menggambarkan kondisi nyata yang masih terjadi di Indonesia. Banyak kemasan karton minuman yang berakhir di tempat pembuangan akhir, padahal materialnya masih sangat berharga untuk didaur ulang.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), sampah kemasan karton minuman atau Used Beverage Carton (UBC) berkontribusi sekitar 0,1% dari total volume sampah nasional atau sekitar 63.000 ton per tahun.
Angka tersebut memang terlihat kecil jika dibandingkan dengan sampah organik atau plastik. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, puluhan ribu ton kemasan karton itu tetap menjadi beban bagi lingkungan.
Kemasan karton minuman sebenarnya memiliki struktur yang cukup unik.
Sebagian besar terdiri atas lapisan kertas, plastik polietilena, dan sedikit aluminium. Kombinasi ini membuat minuman tetap higienis, tahan lama, dan aman dikonsumsi. Sayangnya, banyak masyarakat yang menganggap kemasan ini sulit didaur ulang sehingga langsung dibuang ke tempat sampah.

Padahal kenyataannya tidak demikian. Dengan teknologi yang tepat, lapisan kertas dapat dipisahkan dari plastik dan aluminium.
Serat kertasnya bisa dimanfaatkan kembali menjadi kertas daur ulang, sedangkan campuran plastik dan aluminium dapat diolah menjadi papan komposit, furnitur sederhana, bahan bangunan, pot tanaman, hingga berbagai produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.
