Jandris_Sky
Jandris_Sky Mahasiswa

Kompasianer Terpopuler 2024 - 2025 Kompasiana Award Pelestari 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Pupuk Organik Cair Dari Kulit Jeruk, Ubah Limbah Jadi Pupuk Alami Untuk Tanaman!

23 Juli 2026   21:48 Diperbarui: 23 Juli 2026   21:48 96 6 3


Membuat Pupuk Organik Cair dari Kulit Jeruk, Ubah Limbah Dapur Menjadi Pupuk Alami untuk Tanaman!

Siapa sangka, kulit jeruk yang biasanya langsung berakhir di tempat sampah ternyata masih menyimpan manfaat luar biasa. 

Setelah menikmati manis dan segarnya buah jeruk, sebagian besar dari kita mungkin menganggap kulitnya hanyalah limbah dapur yang tidak lagi berguna. 

Padahal, jika diolah dengan benar, kulit jeruk dapat disulap menjadi pupuk organik cair (POC) yang sangat bermanfaat bagi tanaman sekaligus membantu mengurangi timbulan sampah rumah tangga.

7 langkah membuat pupuk organik cair. (Sumber foto: Jandris_Sky/Gemini)
7 langkah membuat pupuk organik cair. (Sumber foto: Jandris_Sky/Gemini)

Persoalan sampah organik masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tahun 2026, timbulan sampah nasional mencapai sekitar 141.926 ton per hari, dengan komposisi terbesar berasal dari sisa makanan dan limbah organik. 

Artinya, setiap rumah memiliki peluang besar untuk ikut mengurangi sampah hanya dengan mengolah limbah dapur menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Kulit jeruk termasuk limbah organik yang kaya akan nutrisi. 

Di dalamnya terkandung kalium, kalsium, magnesium, fosfor, serta berbagai senyawa alami yang baik untuk pertumbuhan tanaman. Selain itu, aroma khas kulit jeruk juga dipercaya dapat membantu mengurangi keberadaan beberapa hama di sekitar tanaman.

Membuat pupuk organik cair dari kulit jeruk ternyata tidak sulit. 

Bahkan, siapa saja bisa mencobanya di rumah tanpa membutuhkan peralatan yang mahal. Bahan yang diperlukan pun sangat sederhana, yaitu kulit jeruk secukupnya, gula merah atau molase sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme, air bersih, serta larutan EM4 atau starter fermentasi apabila tersedia.

Langkah pertama adalah mencuci kulit jeruk agar bebas dari kotoran dan sisa pestisida. 

Setelah itu, potong kecil-kecil supaya proses fermentasi berlangsung lebih cepat. Masukkan potongan kulit jeruk ke dalam wadah atau botol plastik yang memiliki penutup rapat.

Selanjutnya, larutkan gula merah ke dalam air hingga tercampur rata. 

Tambahkan EM4 bila ada, kemudian tuangkan ke dalam wadah berisi kulit jeruk. Pastikan seluruh kulit jeruk terendam air. Tutup rapat wadah, tetapi setiap satu hingga dua hari sekali buka sebentar untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi. Proses ini biasanya berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu.

Setelah fermentasi selesai, cairan akan berubah warna menjadi kecokelatan dengan aroma asam manis khas fermentasi. 

Saring cairannya, lalu simpan dalam botol bersih. Inilah pupuk organik cair yang siap digunakan untuk menyuburkan berbagai jenis tanaman.

Cara penggunaannya juga cukup mudah. Campurkan sekitar 10 hingga 20 mililiter pupuk organik cair ke dalam satu liter air, kemudian siramkan ke media tanam atau semprotkan ke daun tanaman setiap satu hingga dua minggu sekali. Penggunaan secara rutin dapat membantu memperbaiki kesuburan tanah, merangsang pertumbuhan akar, serta membuat tanaman tampak lebih segar.

Selain menghasilkan pupuk, kegiatan ini juga menjadi bentuk edukasi sederhana tentang pentingnya ekonomi sirkular. 

Barang yang sebelumnya dianggap sampah ternyata masih memiliki nilai manfaat jika dikelola dengan kreativitas. Semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan limbah organik, semakin sedikit pula sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Kebiasaan kecil seperti ini juga mendukung program pengurangan sampah dari sumbernya. Bayangkan apabila jutaan rumah tangga di Indonesia mulai mengolah kulit buah menjadi pupuk organik. Jumlah sampah organik yang masuk ke TPA tentu akan berkurang secara signifikan, sementara masyarakat memperoleh pupuk alami secara gratis.

Bagi para pecinta urban farming, pupuk organik cair dari kulit jeruk menjadi solusi yang ekonomis. 

Tanaman cabai, tomat, kangkung, bayam, bunga hias, hingga tanaman buah dalam pot dapat memperoleh tambahan nutrisi tanpa harus selalu bergantung pada pupuk kimia. Selain lebih ramah lingkungan, biaya perawatan tanaman pun menjadi lebih hemat.

Tidak hanya itu, membuat pupuk sendiri juga memberikan kepuasan tersendiri. Kita bisa melihat bagaimana limbah dapur yang awalnya tidak bernilai berubah menjadi produk yang bermanfaat bagi kehidupan. Anak-anak pun dapat dilibatkan dalam proses pembuatannya sehingga mereka belajar mencintai lingkungan sejak usia dini.

Gerakan sederhana ini sejalan dengan upaya mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, poin 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta poin 13 tentang penanganan perubahan iklim. 

Mengurangi sampah organik berarti ikut mengurangi potensi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari pembusukan sampah di TPA.

Pada akhirnya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Jangan lagi memandang kulit jeruk sebagai limbah yang tidak berguna. Dengan sedikit kreativitas dan kemauan, kulit jeruk dapat berubah menjadi pupuk organik cair yang menyuburkan tanaman sekaligus menjaga lingkungan tetap lestari.

Mulailah dari dapur sendiri. Kumpulkan kulit jeruk setiap kali selesai menikmati buahnya, lalu olah menjadi pupuk alami. 

Selain halaman rumah menjadi lebih hijau, kita juga telah berkontribusi mengurangi sampah dan menjaga bumi agar tetap sehat untuk generasi mendatang. Ternyata, solusi untuk lingkungan yang lebih baik bisa dimulai dari sepotong kulit jeruk yang selama ini sering kita abaikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2