Kadang kita menemukan pakaian yang sudah robek, sangat kotor, atau kondisinya sudah tidak layak. Pakaian seperti itu sebaiknya tidak diberikan sebagai pakaian layak pakai. Jika masih memungkinkan, kain tersebut dapat dimanfaatkan menjadi lap, kain perca, atau bahan kerajinan.
Jadi, sebelum bersedekah, mari bertanya kepada diri sendiri: "Kalau pakaian ini diberikan kepada saya, apakah saya masih mau memakainya?"
Kalau jawabannya iya, kemungkinan besar pakaian tersebut masih layak disedekahkan.
Berbagi Sekaligus Mengajarkan Kepedulian
Sedekah pakaian juga dapat menjadi kegiatan keluarga. Anak-anak bisa diajak membuka lemari, memilih pakaian yang sudah tidak digunakan, mencuci, melipat, dan mengemasnya.
Kegiatan sederhana tersebut bisa menjadi pembelajaran tentang berbagi. Anak-anak belajar bahwa barang yang sudah tidak mereka gunakan belum tentu tidak berguna. Mereka juga belajar bahwa kepedulian kepada sesama dapat dimulai dari rumah.
Penyaluran pakaian bisa dilakukan melalui komunitas sosial, lembaga amal, kegiatan masyarakat, rumah ibadah, atau langsung kepada orang yang memang membutuhkan. Yang terpenting, pastikan penyalurannya tepat sasaran dan pakaian yang diberikan benar-benar dalam kondisi baik.
Sedikit dari Kita, Berarti bagi Orang Lain
Pada akhirnya, sedekah pakaian layak pakai bukan sekadar memindahkan baju dari satu lemari ke lemari lainnya. Ada nilai kepedulian sosial dan lingkungan yang ikut bergerak di dalamnya.
Satu pakaian yang kembali digunakan berarti satu barang memiliki kesempatan untuk memperpanjang masa manfaatnya. Satu lemari yang dipilah juga bisa menjadi awal kebiasaan hidup yang lebih sederhana dan bertanggung jawab.
Kita tidak perlu menunggu memiliki banyak pakaian untuk mulai berbagi. Satu baju, satu celana, atau satu jaket yang masih layak pun bisa menjadi awal.