Bunga Rizky Ardhina
Bunga Rizky Ardhina Mahasiswa

Saya adalah Mahasiswi tingkat akhir yang memiliki ketertarikan pada bidang psikologi, komunikasi dan pengembangan diri. Diluar aktivitas kuliah dan pekerjaan, saya menyukai kucing dan travelling. Bagi saya travellig bukan hanya tentang mengunjungi tempat baru, tetapi juga tentang mencaripengalaman, menikmati suasana, dan menciprtakan kenangan. Saya juga senang memperhatikan kesehatan dan penampilan serta terus berusaha menjadi versi diri saya yang lebih baik.

Selanjutnya

Tutup

Video

Dari Ide Menjadi Konten: Belajar Kreativitas di Tengah Budaya Digital

27 Oktober 2026   12:29 Diperbarui: 27 Oktober 2026   12:29 119 1 0

Malam itu saya merasa sangat bersemangat. Setelah berjam-jam menonton video di TikTok, saya berpikir, "Kelihatannya gampang, kok. Saya juga bisa bikin."Keesokan harinya, saya langsung mengambil ponsel dan mulai merekam. Tidak ada konsep, tidak ada daftar adegan. Saya pikir semuanya bisa dipikirkan sambil jalan.

Ketika Rencana Tidak Ada

Baru beberapa menit merekam, saya mulai bingung. Apa yang harus dikatakan? Ke arah mana kamera harus menghadap? Adegan mana yang dilakukan lebih dulu?  Rekaman pertama terlalu panjang dan tidak jelas arahnya. Rekaman kedua suaranya tertutup bising di sekitar. Rekaman ketiga hasilnya gelap karena saya merekam membelakangi cahaya. Satu jam berlalu, tetapi tidak ada satu pun yang layak diunggah. Saat itu saya sadar bahwa video yang hanya ditonton beberapa detik ternyata dibuat dengan proses yang jauh lebih panjang. Ada ide, konsep, pengambilan gambar, sampai penyuntingan.

Belajar Merencanakan

Saya akhirnya mengulang dari awal, kali ini dengan persiapan. Saya menulis garis besar cerita, menentukan adegan apa saja yang akan diambil, dan memilih tempat dengan cahaya yang cukup. Saya juga memikirkan pesan yang ingin disampaikan, bukan hanya apa yang ingin direkam. Hasilnya jauh berbeda. Proses merekam menjadi lebih cepat dan hasilnya lebih rapi. Dari situ saya belajar bahwa kreativitas tidak hanya soal ide yang unik, tetapi juga soal kemauan untuk rajin dan niat menyiapkan segalanya sebelum kamera menyala. Tentu rencana tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya situasi di lapangan berubah atau ide yang tampak bagus ternyata kurang cocok saat dicoba. Di situlah kemampuan beradaptasi dibutuhkan.

Angka Bukan Segalanya

Setelah video selesai dan diunggah, saya menunggu dengan penuh harap. Namun jumlah penontonnya hanya sedikit. Rasanya kecewa. Saya sempat tergoda untuk meniru tren yang sedang ramai agar videonya lebih cepat dikenal. Untungnya saya segera berpikir ulang. Angka memang bisa menjadi bahan evaluasi, tetapi jika semua konten dibuat hanya demi mengejar tren, kita bisa kehilangan ciri khas sendiri. Saya memilih membaca komentar dan melihat bagian mana yang kurang menarik. Dari situ saya memperbaiki video berikutnya sedikit demi sedikit.

Kemudahan yang Membawa Tanggung Jawab

Budaya digital memang membuat siapa pun bisa berkarya. Hanya dengan ponsel, seseorang dapat membagikan ide, memperkenalkan budaya, atau mempromosikan usaha kecilnya. Namun kemudahan ini juga membawa tanggung jawab. Dalam proses membuat konten, saya belajar bahwa tidak semua hal boleh direkam dan dibagikan begitu saja. Ketika ada orang lain yang masuk ke dalam video, kita perlu meminta izin. Ketika memakai musik, foto, atau karya orang lain, kita perlu menghargai hak ciptanya. Dan ketika ingin menyebarkan informasi, kita perlu memastikan kebenarannya. Konten yang menarik belum tentu baik jika dibuat dengan mengabaikan privasi orang lain atau mempermalukan seseorang demi perhatian. Kreativitas yang baik adalah kreativitas yang juga memikirkan dampaknya.

Lebih dari Sekadar Video

Kini saya melihat media sosial dengan cara berbeda. Saya tidak lagi hanya menjadi penonton yang menikmati hasil akhir. Saya mulai menghargai proses di baliknya, mulai dari perencanaan, kerja keras, hingga keberanian untuk mencoba lagi setelah gagal. Proses membuat konten ternyata melatih banyak hal seperti mengembangkan ide, mengatur waktu, menerima masukan, dan menyelesaikan masalah. Semua itu berguna dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya di dunia digital. Pada akhirnya, kita perlu bertanya kepada diri sendiri, ketika membuat atau membagikan sebuah konten, apakah kita hanya ingin mendapatkan perhatian, atau juga ingin memberikan sesuatu yang berarti? Popularitas sebuah konten mungkin hanya bertahan sebentar. Namun gagasan yang dibuat dengan niat, kreativitas, dan tanggung jawab bisa meninggalkan pengaruh yang jauh lebih lama.