Reno Radzabi
Reno Radzabi Seniman

Film maker dan penulis naskah film Ig: @renoism__

Selanjutnya

Tutup

Video

The Elephant Man: Eksploitasi yang Bersembunyi di Balik Moralitas

28 Oktober 2026   12:45 Diperbarui: 28 Oktober 2026   12:45 78 0 0

https://share.google/Nyx3qPr3dH5yq3CVw
https://share.google/Nyx3qPr3dH5yq3CVw

Dalam The Elephant Man (1980), David Lynch menghadirkan John Merrick sebagai manusia yang terus-menerus dijadikan objek oleh masyarakat. Namun, eksploitasi dalam film ini tidak hanya hadir melalui kekejaman yang terlihat jelas, melainkan juga melalui tindakan yang mengatasnamakan kebaikan.

Bytes mengeksploitasi Merrick secara amoral demi keuntungan finansial. Ia menjadikan tubuh Merrick sebagai komoditas tontonan, mengabaikan martabat manusia demi kepentingannya sendiri. Sementara itu, Dr. Frederick merepresentasikan bentuk eksploitasi yang lebih kompleks: tindakan yang tampak bermoral, tetapi tetap berpotensi menjadikan penderitaan manusia sebagai objek kepentingan profesional dan pengakuan sosial.

Keduanya tidak sepenuhnya setara. Bytes secara terang-terangan melakukan kekerasan, sedangkan Frederick memperlihatkan persoalan yang lebih ambigu antara kepedulian tulus dan kepentingan institusional. Justru di sinilah kritik film menjadi menarik: eksploitasi tidak selalu hadir dalam bentuk kejahatan yang mudah dikenali.

Melalui sinematografi hitam-putih, atmosfer industrial, dan komposisi visual yang menekan, Lynch membangun dunia yang mempertentangkan martabat manusia dengan cara masyarakat memandang tubuh yang dianggap berbeda. Merrick bukan sekadar korban kebencian, melainkan cermin bagi masyarakat yang merasa dirinya beradab.

Pada akhirnya, The Elephant Man mengajukan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar siapa yang baik dan jahat: apakah moralitas benar-benar membebaskan seseorang dari eksploitasi, atau justru dapat menjadi narasi yang membuat eksploitasi terlihat lebih manusiawi?

Sebab, terkadang, kekejaman tidak perlu menyamar sebagai kebaikan. Cukup dengan membuat seseorang percaya bahwa tindakannya bermoral.