KS Story
KS Story Petani

Kisah PNS Asyik Bertani Di Sebuah Kebun Mini Miliknya, KS Garden Kuansing Namanya. (Kebun Buah Yang Disinari Matahari, Sayuran Yang Berwarna Cerah, Mimpi Yang Dipanen, Keranjang Berlimpah, Usaha Yang Membuahkan Hasil, Akar Yang Bersemangat, Panen Manis, Dari Ladang Ke Meja Makan😅)

Selanjutnya

Tutup

Video

Mereka, Kebanggaan Keluarganya (Kuingin Bercerita Episode 5)

9 Maret 2026   12:40 Diperbarui: 9 Maret 2026   13:41 130 1 0

Malam itu, hujan turun tanpa jeda. Seolah langit ikut menumpahkan perasaanku yang mengharu biru. Aku masih duduk di sofa panjang biru usang, tepatnya di ruang distribusi makanan SPPG Banjar Padang. Kursi biru usang itu selalu hadir dengan Seribu Janji, tempat di mana dulu kami sering bertemu, aku dan dia. Hehehe. 

Cerita berikutnya berjudul; "Rezky Anak Sholeh". Haa...., cerita ini hadir dari Tenaga Official di Dapur MBG kami. Ia juga sebut nama ke badan nya bila hendak berbicara kepada keluarga kami. Artinya, ia hormat kepada kami. Dengar ya kak! ; "Orang tua Mby selalu menanamkan kemandirian sejak Mby kecil. Mby harus bisa berdiri di atas kaki sendiri," kata Papa suatu pagi, ketika Mby berusia sepuluh tahun dan baru saja belajar menanak nasi. Saat teman-teman seusia Mby masih dimanja, Mby sudah belajar mencuci pakaian sendiri, membersihkan rumah..., bahkan menemani Mama memasak. Mby tidak pernah merasa terbebani. Justru ada kebanggaan tersendiri setiap kali Papa dan Mama memuji hasil kerja Mby. Mama sekarang sakit-sakitan, jadi Mby harus membelikan obat buat Mama, dan Pampers Buat Mama. Meski Mby tidur disini kakak percayakan menjaga Dapur kita, terkadang Mby pulang sebentar ke rumah melihat Mama. Kadang Mby memasakkan sambal untuk Mama, lalu balik ke Dapur MBG ini lagi. Begitulah kak, "Garis Takdir Si Anak Sholeh", hehehe. "Ada Rezky Anak Sholeh di Dapur MBG KS ini", katanya lagi. 

Hhmm, malam-malam panjangku memang tak pernah menghadirkan kesepian yang diam-diam menyelinap. Saat mereka bercerita tentang pertengkaran lucu dengan rekan-rekannya, atau tawa hangat bersama tim bagian nya, aku hanya bisa tersenyum. Tak pernah ruang kosong itu ada di dalam dadaku. Aku tahu bagaimana mengisinya. Kadang aku berkata dalam hati;  "bahagia sekali hatiku melihat mereka ini. Aku tahu, mereka, kebanggaan keluarganya". 

Dan aku...,

Aku tanpa sadar meneteskan air mata. Air mata bahagia itu seketika menetes dipipiku. Lalu aku melihat videoklip ini tanpa kusadari mataku sudah berkaca-kaca. Ada bulir bening di mataku yang tak hendak cepat kuhapus. Ya, dari mereka itulah aku belajar. Bahwa setiap pertemuan bisa menciptakan "keluarga kecil" baru. Merekalah yang tertawa bersama saat aku sedang susah..., kalut..., dan mereka...., mereka juga lah yang diam-diam menghibur aku ketika aku sedang banyak pikiran. Dari mereka..., __aku belajar arti berbagi dan pentingnya dukungan dalam hidup. Ya, dari mereka juga aku percaya. Ketika kita selalu berpikir positif dan selalu berprasangka baik, maka hal-hal baik akan lebih mudah datang kedalam hidup kita.

Hari demi hari berlalu. Aku tumbuh menjadi pribadi yang semakin optimis dan ceria. Ada mereka yang ku buat bahagia, ada sekian keluarga yang rezki nya menempel di bahuku, ada ribuan doa yang mereka panjatkan untuk kejayaanku. Tentu saja aku juga bahagia melihat itu. Oh persoalan orang lain yang dulu pernah meremehkan aku, sekarang telah menguap dan hilang tak berbekas. Aku tidak fokus pada apa kata orang. Aku hanya akan  aktif mengikuti berbagai diskusi kebijakan publik saja, berkenalan dengan banyak orang-orang baik, dan menulis di mana pun aku berada. Entah itu di kafe, kebun..., lobi kantor atau ruang tunggu bandara. 

Beberapa halaman novel telah kubaca, tapi pikiranku justru melayang ke masa lalu. Tentang seseorang yang pernah membuatku merasa tidak sendirian. Tentang dia yang dulu menulis pesan manis di pagi hari dan menelponku sebelum tidur. Tentang kebersamaan yang kukira akan bertahan lama. Sudah bertahun-tahun aku tahu segalanya tentang dia. Tentang Ayah. Tentang kelembutan wajahnya yang tiba-tiba muncul di foto kenangan FB unggahanku tahun lalu. Tentang pesan singkat yang menjelaskan segalanya dalam kalimat dingin. "Maaf, KS. Aku nggak bisa selalu bersamamu lagi. Kau udah  dewasa 25 tahun, maka kau harus bersama pria lain selain aku, pria yang kau pilih itu adalah penggantiku, ialah pembimbingmu kelak jika aku sudah tidak ada lagi disampingmu". Awalnya aku marah, aku hancur mendengar itu, lalu aku terdiam. Diam yang membekukan dada. Lamunanku pun terputus.

"Hujan-hujanan sendiri? Kamu mau sakit...?" Suara itu memecah lamunanku. Fiel datang dengan payung birunya, napasnya terengah karena berlari. Ia duduk di sampingku, tanpa bicara apa-apa lagi. "Aku mau pulang", kataku. Air mataku akhirnya jatuh, bercampur dengan air hujan yang membasahi pipi. Fiel memiringkan payungnya ke arahku. Lalu berkata lembut,  "KS, denger yaaa! Kamu nggak harus kuat terus. Kadang, patah itu juga bagian dari bertahan. Kamu boleh sedih, dan kamu juga boleh marah. Tapi jangan biarin luka ini bikin kamu lupa. Kamu masih punya orang-orang yang sayang sama kamu."

Aku terdiam. Hanya suara hujan yang mengisi sela napas kami. "Ibumu, para relawanmu, bahkan aku," lanjut Fiel dengan nada pelan, "kami mungkin nggak bisa gantiin rasa cinta Ayahmu yang hilang, tapi kami bisa jagain kamu supaya nggak tenggelam di dalamnya."

Kata-katanya terasa seperti selimut hangat di tengah badai. Aku menatapnya, mataku buram oleh air dan tangis. Fiel tersenyum samar. "Keluarga itu nggak selalu tentang siapa yang punya hubungan darah, KS. Kadang, keluarga adalah orang yang tetap tinggal, waktu semua orang memilih pergi."

Aku menunduk, menatap tanah yang basah. Entah kenapa, di tengah hujan dan luka yang belum kering, aku merasa sedikit lega. Malam itu aku pulang dengan perasaan yang berbeda. Aku memandangi foto keluargaku di meja belajar. Ibu tersenyum kaku, Ayah tertawa lebar, dan aku di tengah mereka. Dan Fiel disamping kanan aku. Dan ada beberapa kerabat disana, keluarga tapi tak lahir dari rahim yang sama. Entah kenapa, foto itu tampak lebih hidup dari biasanya. Aku baru benar-benar memahami bahwa keluarga bukan hanya mereka yang lahir dari rahim yang sama, tapi juga mereka yang membuat kita merasa "pulang." 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3