Kisah PNS Asyik Bertani Di Sebuah Kebun Mini Miliknya, KS Garden Kuansing Namanya. (Kebun Buah Yang Disinari Matahari, Sayuran Yang Berwarna Cerah, Mimpi Yang Dipanen, Keranjang Berlimpah, Usaha Yang Membuahkan Hasil, Akar Yang Bersemangat, Panen Manis, Dari Ladang Ke Meja Makan😅)
Percaya atau tidak. Ada banyak pertanyaan untuk sebuah kata tulus. Semacam; Mengapa semakin kita dewasa dan tua semakin banyak orang yang berteman dengan kita dengan tidak tulus? Ya, begitulah kehidupan yang akan kita lalui, orang-orang hanya ingin berteman ketika ada mau nya saja. Besok-besok juga lupa dan tidak kenal dengan kita. Ketika kita butuh pertolongan, hanya orang-orang sejati yang mau menemani kita dari awal hingga akhir.
Hhmm. Ya sudahlah jangan terlalu di pikirkan. Ketulusan dari zaman dulu until zaman now, emang kayak gitu kok. Yang tulus 1:1000. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami, susah kan? Ya begitulah mencari teman yang tulus memang sangat sukar. Jika kamu bertemu satu orang saja, kamu jaga baik-baik, ya! Karna dapat teman yang tulus sangat sangat-sangat mustahil dan susah.
Mengapa orang yang tulus sering disakiti, sedangkan yang tidak tulus selalu diperjuangkan? Hahahaha.....sabarlah sayang. Saya pun terkena hal yang sama. Tapi, saya berusaha tetap baik. Tidak bersikap palsu..., cuman kalau ada teman yang sok tulus, tapi yang palsunya, emang saya omongin depan mata aja. Barulah akhirnya saya menarik diri. Ga pa-paaa kan..., daripada pada drama korea ahahaha.
Dunia...., beserta isinya emang tempat ragamnya gudang masalah, ya kan? Terkadang yang tidak tulus terlihat lebih meyakinkan daripada yang tulus. Karena orang yang tulus tidak akan bilang kalau ia tulus, namun lebih memperlihatkannya dengan perbuatan, dan itu memerlukan proses dan waktu yang sedikit lebih lama untuk membuat dirinya meyakinkan. Sedangkan orang yang tidak tulus, selalu menyatakan kalau dirinya tulus secara kata-kata, carmuk sehingga nampak lebih meyakinkan. Itulah sebabnya kebanyakan dari orang yang tidak tulus lebih diperjuangkan, dan orang-orang yang tulus lebih sering tersakiti hihihi. Orang yang tulus kan emang cenderung tidak dihargai. Karena sering kali semua kebaikannya di anggap remeh..., dan dikira sangat mudah untuk dimanfaatkan bahkan tak jarang ia menerima sikap diskriminasi. Dan ga tau kenapa....? Orang-orang lebih mudah terkecoh dengan kata-kata daripada memperhatikan perbuatan.
Apakah kamu pernah di posisi terkecoh? Pasti pernah, ya? Namun, percayalah! Hukum Timbal Balik itu ada. "Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan begitupula dengan ketulusan hati". Saya yakin secara sadar atau tidak sadar, di perjalanan hidup..., __kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang tulus juga dan dibarengi dengan do'a. Kalau saya sih berpandangan sederhana. Tidak usah bertanya, "Kenapa tidak ada orang yang tulus?". Coba mulai dari diri kita dulu. Belajar tulus dengan orang lain. Meski bagi sebagian orang semua hanyalah kepentingan. Namun pasti, masih ada pasti orang yang baik dan tulus didunia ini, jangan khawatir ya dek ya! Mungkin kamu yang belum jumpa dengan orang tersebut. Bukannya tidak ada..., hanya saja sudah jarang, dek. Dari 100% penduduk bumi yang namanya manusia itu, mungkin sekian%nya ada lah pulak orang yang tulus, sekian% nya lagi, yaa... you knowlah, kadang bulus dikira tulus....
Dari pengalaman saya melihat sisi tidak tulus seseorang ketika memberi, ia mengharapkan imbalan balik sesuai dengan keinginan yang ia tuntut dari kita. Orang yang tidak tulus cenderung terlihat aneh, hanya baik kepada satu orang saja seperti ada sesuatu dari satu orang itu yang sedang ia harapkan. Namun ketika orang lain benar-benar butuh bantuannya malah tidak ada rasa ingin membantu dan malah menolak apabila kemauannya tidak terpenuhi, sikapnya akan berubah tiba-tiba. Dari yang tadinya baik berubah menjadi acuh. Biasanya orang yang tidak tulus akan mengungkit-ungkit tentang apa yang pernah ia berikan. Semoga itu..., __bukan kita.
Hmm. Sudahlah. Saya sih bodoh amat. Karena selama saya belajar, saya emang enggak pernah berharap sangat untuk minta-minta bantuan orang, karena tahu, orang enggak akan bantuin saya. Cuman ketika saya bantuin orang, itu ikhlas saya lakukan. Dengan harapan, semoga selama saya mengerjakan niat baik saya, ada aja bantuan yang dikirimkan Tuhan untuk mempermudah hidup saya. Saya ga bisa minta orang baik dengan saya. Karena saya percaya, manusia itu emang suka dengan karakter iblisnya. Disakiti marah..., tapi menyakiti orang mau. Kalau saya masih bisa baik, saya akan buat baik. Tapi tidak menolak kemungkinan saya bakal gak mood baik ma orang jahat.
Dunia positif dan negatif, tidak bisa salah satu saja karena tidak akan seimbang jadinya. Itulah mengapa di kehidupan ini ada orang jahat..., orang baik, orang licik...., orang tulus, dsb. Kalau orang baik semua, dunia tidak seru atuuuuh. Manusia biasa, kadang salah, kadang benar, bahkan tidak keduanya.
Tulus dan baik hati itu emang keren, tapi jangan terus jadi sayuran lah. Kalau kita berharap orang lain jadi baik karena kita sudah berbuat baik, itu terlalu vegetables gaes, sama sekali tidak manusiawi, terlalu bayam. Manusia ya begini ini, terima saja, sederhana sekali buat jujur bahwa manusia bukan tumbuhan.
Tidak semua orang memiliki ketulusan dalam menjalin hubungan antar sesama. Hanya orang dengan pribadi berkualitas yang menyadari bahwa ketulusan itu mahal. Sehingga, pintarlah dalam memilih siapa saja yang berhak dan layak berada di dekat kita. Orang yang berkualitas bisa kita lihat dari cara berpikir dan sikapnya, tak melulu soal fisik semata. Apabila kita menemukan kecocokan dari mindset dan tindakan yang ia tunjukkan, maka jagalah hubungan tersebut. Barangkali ia memiliki ketulusan yang sama halnya dengan kita dalam membangun sebuah relasi. Sering-seringlah berinteraksi dengan orang yang berkualitas. Bertukar pikiran, barangkali. Masih ada kok orang yang tulus di dunia ini, hanya saja kita kadang belum menemukannya. Jika kita belum menemukan, maka jadilah...., __salah satunya.
Ajaran Tulus yang saya tangkap dari kecil. Perbuatlah apa yang baik, kurangi pikiran negatif. Mungkin tidak serta-merta balasannya kita terima sekarang. Tetapi kelak hal-hal itu akan menyadarkan kita. Kalau kita sudah berbuat yang jahat, kelak ada suatu masa kita harus melalui badai hidup yang tidak pernah kita bayangkan. Mungkin bukan kita, tapi anak-anak kita. Kalau kita berbuat baik, tidak pamrih, mengasihi orang lain tulus, kelak kita akan menerima kebaikan juga. Meski tidak serta merta kita menerimanya. Tuhan tidak tidur.