KS Story
KS Story Petani

Kisah PNS Asyik Bertani Di Sebuah Kebun Mini Miliknya, KS Garden Kuansing Namanya. (Kebun Buah Yang Disinari Matahari, Sayuran Yang Berwarna Cerah, Mimpi Yang Dipanen, Keranjang Berlimpah, Usaha Yang Membuahkan Hasil, Akar Yang Bersemangat, Panen Manis, Dari Ladang Ke Meja Makan😅)

Selanjutnya

Tutup

Video

Kita Susah Ga Ada Dia Nolong, Kita Senang Dibilangnya Kita Sombong (Kuingin Bercerita Episode 7)

28 April 2026   22:21 Diperbarui: 28 April 2026   22:23 97 0 0

Kuingin Bercerita Episode 7
Kuingin Bercerita Episode 7


Kita Susah Ga Ada Dia Nolong, Kita Senang Dibilangnya Kita Sombong

Apakah kamu pernah..., __ada di situasi ini? Hah. Gimana rasanya?

"Rasanya menyakitkan ya, saat kesulitan datang tanpa ada yang membantu. Namun situasi ini telah mengajarkan saya tentang kemandirian dan kekuatan diri. Wajar jika saya kecewa, tetapi fokus saya hanya pada pengembangan diri sendiri. Yang saya ingat, manusia memiliki keterbatasan dalam menolong, __bahkan ada kalanya orang lain tidak bisa membantu saya karena kesulitan mereka sendiri". Ya kan?

Lagian, emang begitu kuq manusia. Saat susah..., manusia emang cenderung menjauh. Namun saat sukses, mereka memandang sinis, __seolah keberhasilan yang orang capai adalah kesombongan. Terkadang, dia yang menjauh saat orang lain susah, namun dia pula yang ingin mendekat saat melihat kesuksesan orang lain.

Cerita yang sama juga ada pada kupu-kupu. Kalau ada kupu-kupu yang terperangkap di sarang laba-laba, orang cenderung akan menolong kupu-kupu itu walaupun mungkin si laba-laba belum makan selama berhari-hari. Tapi gimana kalau yang terperangkap adalah ulat yang belum jadi kupu-kupu? Orang tetap nolong nggak? Padahal, keduanya sama. Di dunia ini, memang harus cantik dulu supaya orang mendekat.

Artinya apa? Banyak orang..., baru akan mendekati kita saat kita sudah ada tanda-tanda kehidupan atau bau-bau kesuksesan. Saat kita merangkak, kadang kita kan terhoyong-hoyong tu..., hanya ada 1 2 yang mau melihat. Sisanya, orang-orang tu pasti menjauh. Sehingga muncullah kalimat-kalimat seperti ini ; "Kita Susah Ga Ada Dia Nolong, Kita Senang Dibilangnya Kita Sombong"

Sekilas..., judul ini kedengarannya seperti ungkapan kecewa. Kayak ada rasa "waktu susah ditinggal..., tapi begitu mulai bangkit malah dinilai negatif". Yaah. Namanya juga hidup. Waktu senang kita emang dibilang sombong kuq. Cobak..., waktu kita susah kemaren, boro-boro ditolong. Ha, waktu senang kita, dibilangnya pulak kita lupa  sama dia hahaha. Padahal ya, waktu kita susah..., __kita yang dilupakannya.

Terkadang entahlah, berbagai ragam manusia di dunia ni. Saya menganggap, ini adalah ujian karakter untuk tetap rendah hati dan fokus pada diri sendiri. Apapun komentar orang, saya tetap saja berbuat baik dan fokus pada tujuan hidup saya sendiri tanpa perlu memikirkan pandangan negatif orang lain.  Saya bukan orang yang sibuk banget ngatur opini orang.

So, Bagaimana caranya agar saya fokus terhadap diri sendiri?

Pengalaman Pribadi ;
Ada beberapa cara agar KS bisa fokus terhadap diri sendiri di mana dengan menyelam ke dalam diri. Saya merenung. Tujuan dari saya merenung itu adalah untuk mengheningkan diri saya dari segala hiruk pikiran yang berkelana tanpa henti. Dengan merenung..., saya bisa terbebas dari jeratan masa lalu yang membuat saya penyesalan tiada henti dan masa depan yang dipenuhi berbagai ketidakpastiannya.

Bagaimana cara merenung saya yang paling  efektif?

Cara saya merenung paling efektif adalah dengan menatap langit dan lautan lepas. Lalu bertanya pada diri sendiri. Semacam...; "Apakah KS sudah mengenal diri KS sendiri? Jika sudah, bagaimana cara terbaik untuk mengenal diri KS sendiri? Jika belum, mengapa? Bagaimana cara  KS agar bisa fokus kepada diri sendiri dan tidak kepo dengan kehidupan orang lain? Seberapa baik KS mengenal diri sendiri? Dapatkah KS bercerita tentang kekurangan diri? Sejauh mana KS mengeksplorasi diri KS sendiri? Sayang diri sendiri? Apa pendapat KS tentang diri sendiri?Bagaimana harus menjadi diri sendiri, KS? Kapan KS happy? Mengapa KS sayang dirimu sendiri, KS? Sebanyak itu lah tuh pertanyaan saat saya bertanya pada diri sendiri.

Tahukah kamu? Apa kelebihan orang yang fokus pada diri sendiri?

Fokus pada diri sendiri merupakan bagian dari pada self improvement. Membangun kekuatan internal merupakan cara terbaik untuk meningkatkan kualitas diri. Orang yang fokus pada diri sendiri akan dapat menemukan apa yang menjadi kelebihan dan kelemahan diri. Dengan itu, dapat mendrive diri menjadi lebih baik.

Kelebihan lainnya, orang yang fokus pada diri sendiri tidak menjudge orang lain, karena dia fokus pada pengembangan diri .
Fokusnya pada diri sendiri bukan berarti dia tidak peduli dengan lingkungan sosial, tapi setiap persoalan yang datang dia menggunakan daya nalar untuk memfilter kebenarannya.

Saya KS, mau share bagaimana cara saya fokus dalam mencapai sesuatu ;

Saya dapat belajar fokus dengan baik dalam mencapai cita-cita ataupun apa yang bisa disebut juga tujuan-tujuan sederhana. Ini sungguhan. Menjadi rakus atau terlalu berlebihan dalam suatu proses adalah salah satu ciri khas yang dapat menyebabkan penundaan.

Contoh : Saya bermaksud untuk meraih tujuan saya secepat mungkin dengan menaiki tangga yang terlalu besar yang malah akan lebih menantang otak atau diri saya dalam melakukannya. Sebagai pengganti atau alternatifnya, saya konsentrasikanlah diri saya dalam bentuk KEBIASAAN dengan melakukan tindakan tindakan kecil setiap hari.

Dulu, saya adalah seorang yang sangat sulit untuk fokus pada satu hal. Saya selalu merasa tertarik pada banyak hal dan seringkali terbawa arus dengan banyaknya pilihan yang ada di depan mata saya. Tapi kemudian, saya memutuskan untuk mengejar mimpi saya menjadi seorang pejuang mimpi yang sukses.

Untuk mencapai tujuan ini, saya merasa perlu untuk fokus pada satu hal dan mengabaikan distraksi-distraksi lainnya. Saya mulai dengan membuat target yang jelas dan realistis, serta membuat rencana kerja yang spesifik untuk mencapai target tersebut. Saya juga mengatur jadwal harian dan mingguan saya hanya untuk fokus pada tujuan saya.

Dan untuk melihat value diri saya sendiri, saya refleksi diri. Tanpa saya sadari, apapun yang berkaitan dengan diri saya adalah suatu cerminan. Kalau di ibaratkan, saya seperti tinggal di dunia cermin. Dimanapun, dan kapanpun, saya bisa melihat diri saya. Dari seorang pembenci..., saya akan melihat kekurangan saya. Ya! Soal keburukan, pembenci tidak akan pernah berbohong tentang keburukan saya. Tapi barangkali..., saya perlu mengukur dengan pikiran jenis tingkatan yang mereka tuduhkan terhadap saya. Apakah memang benar adanya, atau memang sedikit di lebih-lebihkan. Saya sendiri, saat seseorang berkata tentang keburukan saya, saya seringkali berfikir.

Disaat mereka tidak peduli kepada saya.. , saya tetap memiliki hal yang harus dilakukan, __tapi tak memiliki cukup banyak resource yang bisa di buang. Jadinya ya, saya memilih efisiensi. Karena, jika tak memfokuskan untuk sumber daya, nanti..., belum sampai sudah habis. Dimana mau mengisi nya lagi? Hal ini sama seperti saya berkendara dijalan. Kalau tak fokus ke jalan didepan, malah lihat-lihat bapack-bapack di pinggir jalan. Bahaya mass. Tabrakan atau jatoh ntar, wkkwk. Kan dirumah ada, kenapa masih searching? Dan, ada kenikmatan yang berbeda tersendiri saat saya bisa fokus pada rasa berkendara saya sendiri.

Namun, ada pula beberapa hal yang membuat saya tidak fokus antara lain : kurang minum air putih. Ini merupakan hal-hal yang sepele yang sering saya lakukan, meskipun saya tidak merasakan dampaknya secara langsung, tetapi banyak kerusakan-kerusakan pada tubuh saya dikarenakan kekurangan air, antara lain : Saya kurang konsentrasi.

Oh iya. Ada Aqua... ? Daya konsentrasi di kontrol melalui otak. Efek kekurangan air putih, maka bagian otak pun akan mengalami kekurangan cairan. Kondisi otak yang mengalami kekurangan cairan ini akan menyebabkan berbagai gangguan konsentrasi. Konsentrasi ini sangat diperlukan untuk melakukan aktivitas.

Btw. Apakah kamu pernah dengar kata-kata ini sebelumnya?

"Dinding rumah sakit lebih banyak mendengar doa tulus dibanding rumah ibadah lainnya. Bandara..., lebih banyak melihat pelukan tulus dibanding pernikahan. Bantal dikasur lebih banyak mendengar keluha terhancur dibanding telinga seseorang. Peluang kita berbisik dalam sujud, suaranya..., __bisa terdengar sampai penghuni langit ".

Ilustrasinya begini ;
Dalam hidup..., saya ada beberapa pandangan untuk menghadapi situasi tersebut. Saya mengandalkan diri sendiri dan Tuhan Yang Maha Esa. : Saat manusia tidak membantu, ini adalah saatnya untuk memperkuat keyakinan bahwa kekuatan utama berasal dari Tuhan dan diri sendiri.

Saya mengevaluasi lingkungan sekitar saya. Seringkali..., jika pertolongan tak kunjung datang, __itu tanda untuk menilai ulang lingkungan pertemanan dan mencari support system yang lebih baik. Saya belajar menolong diri sendiri.

Fokus saya pada solusi jangka panjang..., seperti meningkatkan keterampilan...(skill), mencari bisnis baru.. , atau mengatur keuangan agar tidak terlalu bergantung pada orang lain. Situasi ini adalah kesempatan saya untuk membangun ketahanan mental atau resiliensi agar menjadi pribadi yang lebih tangguh.

Resiliensi itu sederhananya adalah kemampuan saya untuk "mental bounce back"---untuk bangkit, beradaptasi, dan tetap berjalan walau hidup melemparkan saya pada masalah, tekanan, atau perubahan yang tidak terduga. Kalau konteksnya untuk saya, resiliensi ini yang sudah ngebentuk saya.

Saya juga selalu ingat. Tidak semua orang dapat menolong saya saat saya mengalami kesulitan. Dan karenanya, saya hanya butuh resiliensi itu untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Satu-satunya yang bisa saya kendalikan secara utuh hanyalah diri saya sendiri. Oleh karena itu, selama ini saya hanya perlu belajar untuk menjadi tangguh dan kuat.

Saya mampu menghadapi kesepian hidup entah itu sedang jauh dari keluarga..., bahkan lingkungan yang familiar sering bikin rasa sepi menyerang tiba-tiba wkwk. Resiliensi bikin saya bisa mengubah sepi jadi waktu refleksi atau momen untuk mengembangkan diri.

Saya beradaptasi dengan budaya dan kebiasaan baru. Ada budaya yang bikin kaget, aturan yang beda, bahkan cara orang berkomunikasi yang nggak sama. Saya yang resilien cepat belajar dan nggak takut salah. Dan saya..., saya mengelola tekanan hidup sehari-hari. Dari urusan dokumen, pekerjaan, bahasa, sampai harga sewa yang mahal, __semua ini bisa bikin saya stres. Tau gak?

Tapi resiliensi itu benar-benar membuat saya tetap fokus cari solusi, bukan tenggelam dalam masalah. You know? Saya mempertahankan motivasi dan tujuan hidup saya. Bahkan, saat homesick, gagal, atau merasa "kok gini amat ya?", resiliensi inilah yang bikin saya tetap ingat alasan kenapa saya pergi dan mau berjuang lagi dari awal.

Saya menciptakan support system baru untuk diri saya sendiri. Saya ga ada terheran-heran dengan judul ini. Karena memang, situasi ini adalah realita sosial yang sering terjadi. Sebenarnya, ini mencerminkan kurangnya empati dan sifat iri hati sebagian manusia saja. Toh, saya tidak pernah merasa lebih tinggi dari orang lain. Saya menerima kenyataan bahwa orang lain juga punya kelebihan.

Oh. Saya bersyukur atas pencapaian saya, __itu wajar. Saya mengabaikan komentar negatif, itu juga benar. Seringkali yaa, tuduhan sombong muncul dari ketidakberdayaan orang lain untuk menerima keberhasilan saya, hahaha.

Apapun makanannya, minumannya tetap Teh Botol Sosro. Saya terus saja belajar dalam keseharian saya. Hobi saya membaca, kadang menulis. Ga fokus saya sama opini orang lain tu. Yang penting saya tahu, bahwa sifat sombong itu menghambat pembentukan hubungan yang tulus. Itu juga mempersulit kesempatan saya untuk membangun jejaring sosial yang kuat.

Saya bukan pribadi yang menjauhi banyak orang dan bukan pula pribadi yang suka bergerak sendiri. Saya mencari tahu tanpa bantuan orang lain atau (berdiri sendiri), itu benar. Akan tetapi, apakah hal tersebut salah? Tidak salah bukan? Tidak ada yang salah dengan memiliki preferensi untuk menjauhi banyak orang dan suka bergerak sendiri.

Setiap individu memiliki preferensi dan kebutuhan sosial yang berbeda-beda. Beberapa orang mungkin merasa lebih nyaman dan bahagia dengan interaksi sosial yang lebih terbatas, sedangkan orang lain mungkin lebih menyukai interaksi sosial yang lebih luas.

Hal ini juga tergantung pada kepribadian dan preferensi pribadi kita. Jika saya pas nya merasa nyaman dan bahagia dengan menjauhi banyak orang dan suka bergerak sendiri, tidak ada yang salah dengan itu. Penting untuk menghormati preferensi dan kebutuhan pribadi diri sendiri, selama hal tersebut tidak merugikan orang lain atau melanggar norma sosial yang berlaku.

Namun, penting juga untuk diingat bahwa interaksi sosial yang sehat dan hubungan yang baik dengan orang lain juga memiliki manfaat besar. Membangun hubungan sosial yang baik dapat memberikan dukungan emosional, kesempatan untuk belajar dan berkembang, serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Jadi, jika saya merasa ingin mencoba meningkatkan interaksi sosial saya, mungkin ada baiknya untuk mencari kesempatan di mana saya dapat merasa nyaman dan terlibat dengan orang-orang pilihan saya.

Sesuai judul, saya saya cuma mau bilang; "Saya susah ga ada dia yang nolong, jadi ya ga wajar juga klo saya senang dibilangnya saya sombong". Barangkali dia tidak kenal saya. Pepatah kan pernah bilang..., "Tak kenal maka tak sayang", dan sebagai tambahan dari saya, "jika sudah kenal..., saya jamin dia bakal mudah sayang!".

Mungkin, ada beberapa kemungkinan kenapa dia bisa bilang begitu. Dia nggak lihat proses saya waktu lagi berjuang, jadi yang kelihatan cuma hasilnya ajaaa. Perubahan sikap (misalnya jadi lebih fokus atau lebih selektif) kadang disalahartikan sebagai "sombong." Atau bisa juga karena ekspektasi orang lain, __mereka yang terbiasa saya selalu "ada," lalu saat saya mulai jaga batas, dianggap berubah.

Tolong lah ya gaess yach!
Bedakan lah yaa, antara benar-benar jadi sombong vs cuma lagi menjaga diri. Nggak semua penilaian gaees lah harus saya telan mentah-mentah.

Kan gaess tau. Saya pribadi yang mandiri. Dan itu yang banyak orang awam lihat, saat saya terluka dan melakukan aktivitas berat, __orang lain akan melihat saja. Padahal saya juga memerlukan bantuan, apakah seseorang yang tepat akan memahami dan menolong saya? Menurut gaees gimana?

So far, jika saya ngelakuin apa yang orang mau, tanpa sadar saya membebani diri saya sendiri. Dan ketika saya ada masalah, juga mereka ga bener-bener tau dan peduli. Belum lagi kadang temen diam-diam juga lagi sibuk menata dirinya, sampe tiba-tiba dapet info mereka udah ada pencapaian gini gitu dll. Disitu saya mikir, "iya yah? Mereka ga salah yang salah itu saya yang terlalu peduli sampe lupa sama hidup saya sendiri."

Mereka sebagai temen taunya apalah, paling sebatas teman curhat sejauh ini, sisanya kan saya yang jalanin. Kalo saya fokus ke mereka, kapan fokus ke diri sendiri dan yang ada saya malah kecewa karna mereka diam-diam menata hidup dengan baik. Begitu juga akhirnya berlaku ke keluarga, dll. Karna pada akhirnya saya berdiri sendiri dan diri saya yang tentuin saya mau kemana.

Intinya gitu deh, hal gitu yang akhirnya buat saya mikir udah saat nya saya fokus ke diri saya, __bukan orang lain. Saya punya kehidupan sendiri yang harus saya tata jadi jangan kecewa kalo kedepan saya ninggalin dia dengan curi start duluan, bukan kejam tapi dia aja yang terlalu fokus dan bergantung ke saya.

Saya menggunakan kebebasan saya untuk bergerak, dia yang membatasi diri demi melihat saya. Itu dia yang salah. Wkwkwk jadi semuanya itu kita hanya sendiri dan Tuhan gaess. Paham kan sampe sini maksudnya? Maaf agak ribet wkwkwkwk.

Udah ah. Ubur-ubur ikan lele. KS mau makan pecel lele !

#KSStory #KuinginBercerita #Episode7
#KitaSusahGaAdaDiaNolong
#KitaSenangDibilangnyaKitaSombong