Di tanah Caracas yang pernah bernyanyi
Kini langit berat oleh ancaman sunyi
Benteng baja berdiri di balik samudra
Menekan negeri kecil dengan bahasa kuasa
Nurani dunia perlahan mati
Saat penderitaan disebut strategi.
Dari utara datang suara bermahkota
Mengaku penjaga demokrasi dunia
Satu nama ditunjuk sebagai musuh
Presiden diburu tanpa pengadilan utuh
Venezuela dituduh tanpa suara
Karena tak mau tunduk pada kuasa.
Sanksi dijatuhkan bukan pada istana
Tapi ke dapur rakyat jelata
Obat mahal, perut lapar
Anak-anak jadi angka di laporan kasar
Katanya ini jalan damai
Tapi kelaparan jadi senjata yang nyata.
Media bersorak menyulut cerita
Venezuela digambar neraka
Amerika berdiri sebagai hakim
Menulis hukum seperti wahyu langit
Siapa berbeda dicap kriminal
Tanpa sidang, tanpa pembelaan.
Minyak bumi jadi alasan suci
Emas dan tanah jadi bukti ambisi
Diplomasi hanyalah topeng ramah
Serigala berjabat tangan dengan lemah
Negeri dibelah peta kepentingan
Atas nama kebebasan dan keamanan.
Gedung hukum dunia berdiri angkuh
Namun palunya berat sebelah penuh
Tak pernah mengetuk bagi Venezuela
Karena keadilan punya bendera
Hukum rimba berdasi rapi
Memangsa tanpa perlu empati.
Jika dunia masih menyebut ini adil
Maka keadilan telah lama mati
Venezuela berdiri dengan luka
Melawan kuasa yang merasa berhak segalanya
Palu keadilan milik siapa?
Saat yang kuat bebas, yang kecil binasa.