Di antara sunyi, namamu kupanggil pelan,
Suhesti... gema paling pedih di ingatan.
Malam menunduk saat doaku terucap,
Hati gemetar, namun rindu tak pernah lenyap.
Engkau memilih jalan panjang tak bertepi,
Sedang aku tertahan di simpang yang sepi.
Kujahit ikhlas dari luka yang terbuka,
Meski benangnya putus oleh rasa yang tersisa.
Kutegarkan hati yang hampir runtuh,
Kusembunyikan retak agar tak tersentuh.
Langit di dadaku perlahan menghitam,
Menelan kata-kata yang gagal kuungkapkan.
Biar air mata luruh di sepertiga malam,
Kusimpan duka dalam sujud yang dalam.
Langit hatiku menangis tanpa suara,
Melihat wajah murammu, air mataku membeku di sana.
Jalanmu telah kau ukur dengan keyakinan,
Langkahmu tegap menuju masa depan.
Tak perlu kau tahu betapa aku berjuang,
Menata puing kasih yang runtuh dan terbuang.
Membeku kesedihanku melihat redup di matamu,
Ingin kupeluk laramu, tapi aku bukan tujuanmu.
Cukup namamu menetap di setiap doaku,
Meski ragamu tak lagi hadir dalam pelukku.
Suhesti... namamu abadi dalam sujudku,
Biar membeku, biar waktu berlalu.
Aku belajar melepaskan dengan pasrah,
Tegarlah hatiku, di hadapan-Nya aku berserah.