Di jalan gelap malam tanpa nama,
darah mengalir jadi saksi setia,
langkahku goyah, napasku luka,
hidup dan mati saling menatap mata.
Pedang bergetar di tangan gemetar,
bukan takut, tapi rindu pulang,
satu sayatan bisa mengakhiri cerita,
sejengkal di tenggorokan, takdir bicara.
Awan tebal menelan teriakan besi,
suara senjata pecah di langit sunyi,
aku berlari menantang malam,
mengejar janji yang hampir karam.
Api membakar dendam di dada,
air mengalirkan sumpah setia,
dua unsur bertabrakan di jiwa,
menjadi satu: keberanian yang luka.
Jika aku jatuh di tengah perang,
ingat namaku sebagai perlawanan,
bukan pahlawan, bukan legenda,
hanya samurai yang menolak menyerah.
Di setiap luka ada doa diam,
di setiap darah ada harapan,
aku tak bertanya tentang akhir,
aku hanya berjalan sampai berakhir.
Saat fajar menyingkap langit kelam,
jika aku hidup, ini kemenangan,
jika aku mati, ini kehormatan,
karena mimpi tak pernah gentar oleh kematian.