Langit berhenti sejenak
Saat sabda rasa berkumandang
Menggugah jiwa dari lengah
Membasahi kalbu yang dahaga
Bukan sekadar kata di bibir
Tapi darah yang mengalir deras
Air mata jatuh tanpa suara
Senyum tersisa di balik luka
Kutolak derita agar kau tak lihat
Kubungkam ratap agar kau tak dengar
Kau tolak cintaku dengan sempurna
Namun senyum tetap kuukir di wajah
Gedung menjulang jadi saksi bisu
Pohon rindang tak mampu bersuara
Aku tetap tabah di ujung luka
Karena sabda rasa tak mengenal dusta
Hunuskan cintamu ke jantung hati
Jangan kau sarungkan dalam mimpi
Walau pintu hatinya terkunci rapat
Ketuklah sampai seribu kali
Menyerah dalam cinta adalah dusta
Kesatria sejati takkan pernah lari
Biarlah samudra darah kau seberangi
Asal cinta suci kan kau raih nanti
Rembulan masih bercahaya di angkasa
Saat kesatria menyatakan rasa
Cukup satu pujaan untuk jiwa raga
Bukan semua gadis yang dikenalnya
Kejujuran adalah mahkota hati
Keberanian adalah pedang sejati
Cinta tanpa ikhlas hanya kepalsuan
Sabda rasa menuntun ke ketulusan
Garis cinta telah digariskan
Takdir yang tak bisa kau hindari
Ada yang bertemu dalam bahagia
Ada yang bertepuk sebelah tangan
Namun ambillah hikmah dari semua
Cinta yang tertolak bukan akhir cerita
Pasrahkan pada Maha Pemilik Rasa
Karena Ia tahu yang terbaik untuk kita
Bidadari pilihan di antara ribuan
Bukan karena paras yang memikat
Tapi karena jiwa yang lembut berseri
Dan budi pekerti yang indah terpahat
Kau laksana rembulan di awan
Bercahaya menembus gelap malam
Dalam kerudung putih yang kau kenakan
Tersimpan keindahan yang tak terkatakan
Ku ukir namamu dalam sajak-sajakku
Seindah wajahmu nan ayu jelita
Terukir selalu dalam detak jantungku
Hingga nafas terakhir kan kujaga
Sabda rasa adalah perjalanan suci
Suka duka menjadi satu warna
Air mata dan senyum dalam harmoni
Karena cinta adalah anugerah-Nya