Ada atau tiada, aku bertanya pada sepi
Haruskah ku bertahan di dalam badai ini?
Menerima panah nasib yang menghujam jantungku
Atau mengangkat senjata, sudahi semua pilu.
Mati hanyalah tidur, begitu ku mengira
Lari dari sakit hati dan ribuan lara
Sebuah akhir yang indah, yang selalu dinanti
Saat tubuh yang lelah tak lagi harus meratapi.
Namun di dalam tidur, mimpi apa 'kan datang?
Saat nafas terhenti dan jasadku menghilang
Ah, di situlah ganjalan yang membuatku terpaku
Menatap jurang maut dengan rasa yang ragu.
Untuk apa manusia menahan cambuk dunia?
Dihina si angkuh, ditindas yang berkuasa
Menangis karena cinta yang ditolak mentah-mentah
Dan hukum yang lambat membuat jiwa ini patah.
Padahal semua perih bisa selesai seketika
Hanya dengan sebilah belati di depan dada
Namun mengapa kita masih mau berkeringat?
Memikul beban hidup yang terasa amat berat.
Sebab kita teramat takut pada sebuah misteri
Tentang dunia setelah mati yang tak pernah kembali
Kita memilih bertahan pada perih yang kita tahu
Daripada terbang menuju gelap yang baru.
Begitulah pikiran membuat kita jadi penakut
Tekad yang membara perlahan mulai surut
Rencana-rencana besar kini menjadi pucat
Lumpuh dalam renungan, kehilangan arah dan amanat.