Khoirul Taqwim
Khoirul Taqwim Lainnya

Peneliti Tentang Kemasyarakatan

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Lagu- Tinta

17 Juni 2026   06:11 Diperbarui: 17 Juni 2026   06:11 90 7 0



Dia tak punya apa-apa di dunia ini,
Bukan siapa-siapa yang dikenal hari ini,
Pensil separuh dan buku yang menguning,
Namun mimpinya tetap terbang menjulang tinggi.

Orang berkata mimpinya hanyalah khayalan,
Menertawakan langkah dan harapan,
Tapi hatinya tak pernah goyah sedikit pun,
Karena ia percaya pada tujuan kehidupan.

Setiap manusia pasti akan pergi suatu hari,
Meninggalkan jejak yang tak kembali,
Namun tulisan akan terus hidup dan bernyanyi,
Menembus waktu, mengarungi abad demi abad nanti.

Di atas kardus ia menulis cerita,
Saat yang lain larut dalam kenyamanan semata,
Dari desa kecil lahir cahaya cita-cita,
Mengubah luka menjadi rangkaian kata.

Seorang guru tua memberikan pena sederhana,
Bukan emas, bukan pula permata,
Namun di dalamnya tersimpan makna luar biasa,
Bahwa mimpi besar bisa lahir dari yang sederhana.

Ada kakak yang selalu memberi semangat,
Saat langkah lelah dan hati terasa berat,
Menjadi pelita di malam yang pekat,
Menguatkan mimpi agar terus melekat.

Di Negeri Para Penulis semua bebas berkarya,
Menorehkan aksara sesuai warna jiwanya,
Jika kau punya mimpi, jangan hanya menyimpannya,
Ambillah pena sekarang, karena giliranmu menulis cerita.

Tulislah mimpimu di langit yang luas,
Jangan biarkan takut membatasi langkah,
Walau dunia berkata kau tak pantas,
Tetaplah menulis hingga sejarah bersaksi jelas.
Ambillah pena, jangan ragu melangkah,
Biarkan aksaramu hidup selamanya,
Karena saat semua telah tiada,
Tulisanmu akan tetap menyala.