Di malam yang sunyi, kutulis kata demi kata,
namamu datang tanpa pernah kupanggil,
bermula dari layar kecil dan percakapan sederhana,
tentang iman, keluarga, dan hati yang ingin pulang kepada Tuhan.
Kau bercerita tentang keluargamu dan pesantren,
aku menuliskannya dengan hati yang penuh hormat,
entah sejak kapan jarak terasa semakin dekat,
padahal tangan kita tak pernah saling menggenggam.
Lalu kau meminta sebuah puisi tentang lelaki dan wanita,
tentang seseorang yang mendambakan wanita penghuni surga,
kutulis dengan jujur meski kusimpan satu rahasia:
barangkali yang kutulis itu adalah engkau, meski tak mungkin kumiliki.
Kau hanya tersenyum dan menitipkan doa,
"Semoga kau menemukan bidadari di surga."
Aku pun tersenyum, menyembunyikan luka di balik kata,
sebab aku tahu, cinta kadang hadir hanya untuk mengajarkan ikhlas.
Kini kau telah berjalan menuju takdirmu,
sementara aku masih menyimpanmu di antara bait dan doa,
namamu mungkin tak lagi ada dalam hidupku,
tetapi pernah menjadi bagian paling sunyi dari puisiku.
Cinta ini tak perlu memiliki untuk menjadi nyata,
cukup kutitipkan kepada Tuhan---
agar jika tak bisa menjadi milik,
ia tetap menjadi doa yang tak pernah selesai.