Di malam dingin kubaca suratmu,
Tinta bercerita tentang bahagiamu,
Hati yang dahulu tenggelam dalam pilu,
Kini tertawa di bawah cahaya waktu.
Andai waktu dapat kuputar kembali,
Kan kuperjuangkan cinta sepenuh hati,
Namun manusia hanya mampu berencana,
Sedang takdir berada dalam kuasa-Nya.
Engkau memilih membahagiakan Abah,
Menyimpan keinginan jauh di dalam jiwa,
Aku memahami meski hati tak mudah pasrah,
Sebab baktimu lebih mulia dari segala pinta.
Ya Tuhan, ajarkan aku arti merelakan,
Mencintai tanpa harus memiliki,
Melepaskan tanpa menyimpan penyesalan,
Menjadikan rindu sebagai jalan mendekat kepada-Mu.
Jika namanya hadir dalam kesunyian,
Kan kusebut dalam doa penuh ketulusan,
Bukan meminta takdir mengulang cerita,
Hanya memohon bahagia menyertai langkahnya.
Kini kuserahkan segala kepada Ilahi,
Cinta dan rindu yang bersemayam di hati,
Sebab segala yang datang akan kembali,
Dan hanya Allah tempat cinta sejati.
Ya Allah, jagalah Ning dalam kasih-Mu,
Terangi hidupnya dengan rahmat-Mu,
Jika takdir kami tak menjadi satu,
Biarlah doa menjadi pelukan terakhirku.