Pada tahun 1528, di bawah kepemimpinan Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna, kedua kerajaan ini bersatu melalui perjanjian yang dikenal sebagai "Rua Karaeng se're ata" atau "dua raja, satu rakyat". Sejak saat itu, kerajaan gabungan ini dikenal sebagai Kerajaan Gowa-Tallo atau Kerajaan Makassar.
Daftar Penguasa Kesultanan Gowa-Tallo
Penguasa penting dalam sejarah Kesultanan Gowa-Tallo:
Tumanurung Bainea (1300 M): Raja pertama Kerajaan Gowa.
Tunatangka Lopi (1420-1445 M): Penguasa yang masa pemerintahannya diwarnai oleh perpecahan kerajaan menjadi Gowa dan Tallo.
Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna (1460-1510 M): Raja yang mempersatukan kembali Gowa dan Tallo.
I Mangarangi Daeng Manrabbia (1593-1639 M): Raja pertama yang memeluk Islam dan bergelar Sultan Alauddin I.
Sultan Hasanuddin (1653-1669 M): Dikenal sebagai "Ayam Jantan dari Timur", memimpin kesultanan pada puncak kejayaannya dan melawan VOC dalam Perang Makassar.

Perkembangan Kesultanan Gowa-Tallo
Setelah memeluk Islam pada awal abad ke-17, Kesultanan Gowa-Tallo berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan kekuatan maritim di Indonesia bagian timur. Di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, kesultanan ini mencapai puncak kejayaannya, menguasai jalur perdagangan penting dan memiliki pengaruh luas di wilayah Nusantara.