Video

"Simbol Kebanggan dan Identitas Masyarakat Gowa dan Sulawesi Selatan: Komplek Makam Sultan Hasanuddin"

15 April 2026   05:33 Diperbarui: 15 April 2026   05:33 124 24 11


Alhamdulillah kami bersyukur, beberapa kali bisa berziarah ke makam ini, dan semua kami dokumentasikan, dari sebelum di renovasi sampai sekarang ini.

Sebelum kami memasuki komplek pemakaman kami melihat, berfoto dan berdiri di Batu Pelantikan, seolah kami saat ini yang berdiri disini sedang dilantik sebagai Raja he he he...

"Koleksi: Misbah Moerad."

Kompleks Makam Sultan Hasanuddin bukan sekadar situs pemakaman biasa, melainkan simbol perlawanan dan kejayaan Kerajaan Gowa di masa lampau. Terletak di atas bukit yang dikenal sebagai Bukit Tamalate, situs ini merupakan salah satu destinasi wisata sejarah paling sakral di Kabupaten Gowa.

Berikut kami rangkum dari guide yang menemani kami di makam ini.

1. Identitas Tokoh Utama

  • Nama Lengkap: Sultan Hasanuddin (lahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape).
  • Gelar: Raja Gowa ke-15 (memerintah 1653--1669).
  • Julukan: "Haantjes van het Oosten" atau Ayam Jantan dari Timur, julukan yang diberikan oleh Belanda (VOC) karena keberaniannya yang luar biasa dalam menentang monopoli perdagangan Belanda.
  • Status: Pahlawan Nasional Indonesia (ditetapkan pada 6 November 1973).

2. Lokasi

  • Letak Geografis: Terletak di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.
  • Bukit Tamalate: Kompleks ini berada di area perbukitan yang menurut kepercayaan masyarakat lokal adalah tempat yang tinggi dan mulia, sesuai dengan derajat para raja. Di masa lalu, wilayah ini merupakan pusat pemerintahan awal Kerajaan Gowa sebelum pindah ke Benteng Somba Opu.

3. Arsitektur dan Struktur Makam

  • Gaya Bangunan: Makam-makam di kompleks ini memiliki bentuk arsitektur yang unik, yaitu perpaduan antara budaya lokal pra-Islam dan pengaruh Islam. Bentuknya menyerupai Punden Berundak (ciri khas zaman megalitikum) yang dikombinasikan dengan bentuk limas atau kubah.
  • Batu Karang & Batu Alam: Sebagian besar makam dibangun menggunakan susunan batu karang atau batu gunung yang direkatkan dengan campuran kapur, pasir, dan putih telur (metode konstruksi tradisional masa itu).
  • Jumlah Makam: Terdapat puluhan makam di dalam kompleks ini (sekitar 46 makam), yang tidak hanya berisi makam Sultan Hasanuddin, tetapi juga raja-raja Gowa lainnya, bangsawan, dan keturunannya.

4. Situs Penting di Dalam Kompleks

  • Makam Sultan Hasanuddin: Menjadi pusat perhatian utama dengan bentuk bangunan yang lebih menonjol dibandingkan makam lainnya.
  • Makam Sultan Alauddin: Makam Raja Gowa ke-14 (ayah dari Sultan Hasanuddin), yang merupakan raja Gowa pertama yang memeluk agama Islam secara resmi.
  • Batu Pallantikan (Batu Pelantikan): Terletak tidak jauh dari gerbang masuk. Ini adalah batu sakral yang digunakan dalam prosesi penobatan Raja-Raja Gowa. Calon raja harus duduk di atas batu ini untuk bersumpah di depan rakyatnya.

5. Nilai Sejarah dan Filosofis

  • Simbol Persatuan: Makam ini menjadi pengingat akan Perjanjian Bungaya (1667) yang menjadi titik balik sejarah Sulawesi Selatan.
  • Nilai Religi: Sebagai bukti sejarah penyebaran Islam di Nusantara, di mana raja-raja Gowa menjadi pelopor dakwah Islam di wilayah timur Indonesia.
  • Filosofi Kepemimpinan: Tata letak makam dan keberadaan Batu Pallantikan menunjukkan konsep kepemimpinan Gowa yang demokratis pada masanya, di mana raja dilantik berdasarkan hukum adat dan kesepakatan dewan adat (Bate Salapang).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2