Video

Pesona Pantai Panjang Bengkulu

19 April 2026   05:30 Diperbarui: 19 April 2026   05:30 104 18 8


"Semakin sering kita lihat orang lain bahagia di layar... semakin kita lupa rasanya bahagia di dunia nyata.
Dan anehnya... saya justru menemukan itu di tempat yang tidak pernah viral - Pantai Panjang."

Pernah nggak sih kita merasa... hidup ini makin lama makin penuh, tapi justru makin kosong?

Scroll media sosial tiap hari... lihat orang liburan ke luar negeri, foto estetik, senyum lebar, caption bahagia. Tapi anehnya, setelah itu... kita malah makin lelah. Bukan karena iri... tapi karena tanpa sadar, kita ikut berlomba dalam sesuatu yang bahkan kita sendiri nggak yakin tujuannya apa.

Dan di tengah semua itu, saya dan istri berdiri di sini... di Pantai Panjang.

Nggak ada yang mewah. Nggak ada resort mahal. Nggak ada keramaian berlebihan. Bahkan, kalau jujur... ini bukan tempat yang sering muncul di feed orang-orang yang katanya "traveler".

Tapi justru di sini... saya menemukan sesuatu yang sudah lama hilang.

Kesederhanaan.

"Koleksi: Misbah Moerad."

Hamparan pasir yang panjang, ombak yang datang tanpa pencitraan, angin yang nggak peduli siapa kita... semuanya terasa jujur. Tidak dibuat-buat. Tidak dikurasi. Tidak untuk dipamerkan.

Berbeda dengan hidup kita hari ini... yang seringkali lebih sibuk terlihat bahagia, daripada benar-benar merasa bahagia.

Saya dan istri berjalan pelan di tepi pantai. Sepi... tapi bukan kesepian. Justru terasa penuh. Penuh dengan suara alam, penuh dengan ruang untuk berpikir.

Dan di situ saya mulai sadar... mungkin selama ini kita salah arah.

Kita terlalu sibuk mengejar tempat yang "terlihat indah", sampai lupa menikmati tempat yang benar-benar memberi rasa.

Bengkulu mungkin bukan kota yang sering dibicarakan. Tidak viral. Tidak trending. Tapi justru itu... yang membuatnya tetap apa adanya.

Di Pantai Panjang ini, tidak ada yang berusaha menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Laut tetap laut. Ombak tetap ombak. Langit tetap berubah sesuai waktunya.

Lalu kita?

Kenapa justru sibuk menjadi orang lain?

Kenapa harus menunggu validasi untuk merasa cukup?

Kenapa harus jauh-jauh mencari tenang... kalau sebenarnya yang kita butuhkan hanya berhenti sejenak?

Terik Mentari mulai menyengat. Warna langit berubah pelan... seolah mengingatkan bahwa semua yang kita kejar, pada akhirnya juga akan reda.

Dan di momen itu... saya dan istri seperti ditampar pelan oleh kenyataan:

Bahwa hidup bukan soal seberapa jauh kita pergi... tapi seberapa dalam kita merasakan.

Pantai ini tidak menawarkan kemewahan. Tapi ia menawarkan kejujuran. Sesuatu yang hari ini justru jadi barang langka.

Mungkin... kita tidak butuh liburan mahal.
Mungkin... kita tidak butuh tempat yang viral.

Mungkin... yang kita butuh hanya satu hal sederhana:

Berhenti.
Duduk.
Dan berdamai dengan diri sendiri.

Dan kalau suatu hari kompasianer merasa lelah... merasa hidup terlalu bising...

Coba datang ke sini.
Bukan untuk pamer... tapi untuk pulang.

Pulang ke diri sendiri.

Kompasianer...hayu Explore Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3