"Kadang kita tidak lelah karena perjalanan...
Tapi karena terlalu lama berpura-pura kuat.
Dan pagi itu, di Danau Dendam Tak Sudah ... saya berhenti sejenak... dan mulai jujur pada diri sendiri."

Tidak semua tempat indah... benar-benar "tenang".
Ada yang terlihat damai di permukaan...
Tapi menyimpan cerita yang tidak pernah benar-benar selesai.
Dan pagi itu... saya dan istri duduk di sebuah tempat dengan nama yang tidak biasa...
Danau Dendam Tak Sudah.
Namanya saja sudah seperti peringatan.
"Dendam... Tak Sudah."
Seolah ada sesuatu yang tertinggal.
Sesuatu yang belum selesai... bahkan sampai hari ini.
Warga sekitar percaya... nama ini bukan sekadar nama.
Ada cerita lama... tentang cinta, pengkhianatan, dan kematian yang tidak wajar.
Konon... dahulu ada seorang perempuan yang sangat cantik. Ia jatuh cinta pada seorang pria yang menjanjikan masa depan. Tapi cinta itu berakhir tragis. Dikhianati... ditinggalkan... dan akhirnya ditemukan meninggal di sekitar kawasan ini.
Sejak saat itu... danau ini berubah.
Airnya tetap tenang.
Pemandangannya tetap indah.
Tapi suasananya... berbeda.
Saya tidak tahu apakah cerita itu benar atau tidak.
Tapi ada satu hal yang sulit dijelaskan...
Saat saya dan istri berdiri di sini... ada rasa seperti sedang diperhatikan.
Bukan oleh manusia.
Tapi oleh sesuatu... yang tidak terlihat.
Angin berhembus pelan... tapi dinginnya terasa berbeda.
Bukan sekadar dingin biasa... tapi seperti menyentuh sampai ke dalam.
Kabut tipis mulai turun perlahan.
Menutup sebagian permukaan danau.
Dan di situlah... suasana berubah.
Dari yang awalnya hanya tenang... menjadi terasa "sunyi yang berat".
Seperti ada yang ingin bicara... tapi tidak bisa.
Beberapa warga yang saya temui sempat berpesan,
"Kalau ke sini, jangan terlalu lama menjelang maghrib."
Bukan tanpa alasan.
Katanya... di waktu-waktu tertentu, sering terdengar suara tangisan pelan.
Kadang... seperti suara perempuan.
Kadang... hanya bayangan di permukaan air.
Dan yang paling sering diceritakan... adalah sosok yang berdiri di kejauhan.
Diam... tidak bergerak... tapi selalu ada.
Saya mencoba menenangkan pikiran.
Meyakinkan diri bahwa ini hanya perasaan.
Tapi semakin lama... suasana justru semakin terasa "berbeda".
Saya memperhatikan permukaan danau.
Tenang... seperti cermin.
Tapi anehnya... bayangan yang terlihat... tidak selalu sesuai.
Ada momen singkat... sangat cepat...
Seperti ada sesuatu yang berdiri... di belakang saya.
Saya menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya angin... dan suara daun.
Mungkin hanya sugesti.
Atau mungkin... tidak.
Bengkulu memang menyimpan banyak keindahan.
Tapi seperti banyak tempat lain di Indonesia...
Keindahan itu sering berdampingan dengan cerita yang tidak kasat mata.
Danau ini bukan hanya tentang air yang tenang.
Tapi tentang sesuatu yang masih "bertahan".
Sesuatu yang mungkin... belum ikhlas.
Belum selesai.
Atau... tidak ingin dilupakan.
Langit mulai berubah warna.
Siang menanjak perlahan.
Dan entah kenapa... perasaan saya mengatakan satu hal:
Sudah cukup.
Bukan karena takut.
Tapi karena... tempat ini seolah punya batas yang tidak terlihat.
Batas... yang tidak seharusnya dilanggar.
Saya dan istri melangkah pergi perlahan.
Meninggalkan danau ini... dengan satu pertanyaan yang masih tertinggal:
Apakah "dendam" itu benar-benar milik cerita lama?
Atau... justru masih ada... sampai sekarang?
Dan sebelum benar-benar menjauh... kami sempat melihat sekali lagi ke arah danau.
Kabut semakin tebal.
Dan di kejauhan...
Seperti ada sesuatu yang berdiri.
Diam.
Menatap.
Menunggu...
Hayu Explore Indonesia