Video

Jeritan Tengah Malam di Cidahu: Pengalaman Horor Pendakian Gunung Salak

1 Mei 2026   12:00 Diperbarui: 1 Mei 2026   06:59 91 16 8

 
"Pak... ibu... tolong saya...."

Suara itu pelan, nyaris berbisik, namun terdengar sangat jelas tepat di balik kain tenda kami. Saya dan istri tertegun, saling berpandangan dengan wajah pucat. Itu adalah malam di mana kami sadar, Gunung Salak tidak sekadar menguji fisik, tapi juga mental, dengan caranya yang paling mengerikan.

Cinta Alam Sejak SMP

Mendaki dan berkemah bukanlah hal baru bagi saya dan istri. Hobi ini sudah kami tekuni bersama sejak zaman sekolah (SMP-SMA), lanjut saat bangku kuliah, hingga kami menikah. Masuk hutan, menyusuri sungai, bahkan menelusuri goa adalah makanan sehari-hari.

Dari puluhan kali berkemah, sebagian besar lancar jaya. Namun, kami mencatat ada sekitar 15 kali kejadian "bau" horor yang menghampiri. Awalnya kami anggap itu hanya bumbu perjalanan, sampai akhirnya kejadian di Gunung Salak ini menampar kami bahwa ada tempat yang memang tidak boleh diganggu.

Keputusan Menjelajah Jalur Baru

Biasanya, kami menggunakan jalur pendakian yang familier. Namun, kali ini kami ingin mencoba suasana baru melalui jalur Cidahu, Sukabumi. Kami mencari spot berkemah yang lebih tenang, bukan tempat yang sering digunakan pendaki lain.

Sesampainya di tempat yang dirasa cocok, kami mendirikan tenda, memasak, makan malam, dan menunaikan ibadah shalat. Suasana malam itu tenang, terlalu tenang, sampai akhirnya keheningan itu pecah.

Teror "Tolong Saya"

Tengah malam, setelah beristirahat, suara perempuan terdengar.
"Pak... Ibu... Tolong saya..."

Suaranya berulang-ulang. Merinding? Jelas. Saya memberanikan diri membuka tenda dan keluar membawa senter, memastikan apakah ada pendaki lain yang tersesat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3