Tanpa terasa, kami sudah lima hari berada di Mojokerto. Karena episode traveling kami tidak ada target yang dicapai, tidak ada batas waktu, pensiunan mah....bebas.
Kali ini kami tetap menikmati komplek Trowulan, walau kami sudah beberapa kali kesini, tapi membayangkan bagaimana kekuatan dan kekuasaan raja-raja masa lalu melalui peninggalan mereka yang ada sampai saat ini. Istri masih tetap reuni dengan teman lamanya, katanya, kalau Trowulan sudah sering di kunjungi, tapi teman-teman lama belum tentu bisa bersama lagi.
Berdiri megah di tengah hijaunya kompleks Trowulan, monumen abad ke-14 ini lebih menyerupai sebuah gapura raksasa. Tapi tunggu dulu, kenapa namanya "Bajang Ratu"? Usut punya usut, nama ini diambil dari Bahasa Jawa yakni bajang yang berarti kecil atau kerdil, dan ratu yang berarti raja.

Menurut catatan sejarah lokal, nama ini disematkan untuk Raja Jayanegara, raja kedua Majapahit. Beliau naik takhta di usia yang masih sangat muda atau "kerdil", dan konon juga pernah terjatuh di gapura ini semasa kecil sehingga ada legenda yang mengaitkannya dengan gelar tersebut. Jangan bayangkan candi ini penuh dengan patung dewa-dewi, karena bentuk utamanya murni gapura paduraksa (beratap) dari batu bata merah yang sangat fotogenik.
Hal-Hal Menarik yang Bikin Betah
Ada beberapa fakta unik yang saya temukan selama menjelajahi kompleks candi seharga Rp 3.000 ini:

Saatnya Melanjutkan Perjalanan
Setelah puas menikmati angin sepoi-sepoi dan mengagumi arsitektur luar biasa peninggalan nenek moyang, saya harus kembali ke hotel. Besok, perjalanan harus dilanjutkan ke Malang. Semoga saja saat kami sampai di sana, kabar baik mengenai jadwal wisuda si bontot sudah keluar.
Bagi Anda yang sedang berada di Mojokerto atau sekitarnya, sempatkan mampir ke candi ini! Tempatnya tenang, sejuk, dan tiket masuknya bahkan lebih murah daripada sepiring camilan. Sungguh destinasi yang sempurna untuk melepas penat!