Pagi itu, seperti biasa, kami memulai hari dengan niat sederhana: jalan-jalan tipis, tapi tetap bermakna. Tujuan kami kali ini adalah Gunung Keramat di kawasan Sentul, dengan ketinggian 945 MDPL-cukup untuk mengeluarkan keringat, tapi tidak terlalu ekstrem.
Jam 06.30 kami berangkat dari rumah. Perjalanan santai tanpa terburu-buru, menikmati pagi yang masih segar. Sekitar pukul 08.02 kami tiba di basecamp. Tanpa banyak basa-basi, pukul 08.03 langsung registrasi, dan dua menit kemudian, tepat pukul 08.05, kami mulai melangkah.

Baru dua menit berjalan, pukul 08.07 kami sudah sampai di Pos 1. Awalnya terasa ringan, bahkan cenderung terlalu santai. Tapi ternyata, ujian sesungguhnya ada di jalur menuju Pos 2.
Tanjakan dari Pos 1 ke Pos 2 benar-benar menguras tenaga. Entah kenapa, badan terasa lebih berat dari biasanya. Saya sampai harus berhenti sekitar enam kali. Bahkan sempat bilang ke istri, "Jangan terlalu jauh ya... takut pingsan di jalan." Sesuatu yang jarang terjadi, karena biasanya saya cukup kuat di jalur seperti ini.
Yang menarik, justru istri saya terlihat semakin semangat. Langkahnya ringan, seolah tanjakan itu bukan apa-apa.
Karena terlalu fokus mengatur nafas, saya sampai lupa pukul berapa tiba di Pos 2. Kami istirahat sekitar 15 menit di sana, sambil memesan teh panas. Hangatnya teh di tengah rasa lelah, benar-benar jadi penyelamat energi.
Perjalanan dilanjutkan menuju Pos 3, yang dikenal sebagai Ciwangun. Di sini suasana lebih hidup. Kami sempat "mengamankan" durian dan kelapa muda untuk dinikmati saat turun nanti-takut kehabisan, karena memang cukup banyak pendaki yang mampir.
Naik lagi, kami melewati Pos 4 yang dikenal dengan nama Tanjakan Assalamualaikum. Nama yang sederhana, tapi cukup mewakili---karena di tanjakan ini, rasanya memang harus banyak "menyebut nama Tuhan".

Sebelum puncak, kami melewati Lembah Keramat di ketinggian sekitar 875 MDPL. Suasananya mulai terasa lebih tenang, udara lebih sejuk, dan langkah mulai terasa ringan kembali.
Akhirnya, pukul 11.15 kami tiba di Puncak Keramat (945 MDPL). Tidak terlalu tinggi, tapi cukup memberi kepuasan. Perjalanan yang naiknya penuh drama, terbayar dengan suasana puncak yang menenangkan.
Kami tidak terlalu lama di atas. Pukul 11.57 mulai turun, karena sadar perjalanan pulang juga butuh tenaga.
Di perjalanan turun, tepatnya sekitar menit 16.25 (dalam video kami), momen yang ditunggu akhirnya tiba: menikmati durian dan kelapa muda. Kombinasi sederhana, tapi luar biasa nikmat setelah perjalanan panjang.

Namun cerita belum selesai.
Di jalur turun, khususnya dari Pos 3 ke basecamp, justru istri saya mulai kelelahan. Beberapa kali harus berhenti untuk istirahat. Mungkin efek "kebanyakan makan duren", atau memang tenaga sudah terkuras sejak tadi.
Perjalanan turun terasa lebih lama dari yang dibayangkan. Tapi seperti biasa, kami jalani dengan santai, tanpa memaksakan diri.
Akhirnya, pukul 15.30 kami tiba kembali di basecamp. Langsung bersih-bersih, sholat, dan bersiap pulang.
Pendakian ini mungkin tidak panjang, tidak tinggi, dan tidak ekstrem. Tapi justru di sinilah letak keindahannya-tentang menikmati proses, menerima kondisi tubuh, dan saling menjaga satu sama lain.
Karena pada akhirnya, pendakian bukan hanya soal sampai puncak, tapi tentang perjalanan itu sendiri.