Dan di momen yang tidak direncanakan itu, para pendaki mendaulat saya menjadi imam. Dalam gelap, di atas batu, dengan jarak antar jamaah yang tidak rapat... kami melaksanakan sholat subuh.
Seseorang mengumandangkan azan, entah dari mana asalnya. Wajah tidak terlihat, tapi suaranya jelas. Dan di tengah dingin, gelap, dan kelelahan... ada ketenangan yang sulit dijelaskan.

Mungkin ini bukan sekadar pendakian.
Ini perjalanan batin.
Menikmati api biru memang penuh perjuangan. Selain jalur yang menantang, bau belerang begitu menyengat. Banyak pendaki menggunakan masker khusus.
Dan di tengah semua itu, saya justru kagum pada para penambang belerang.
Mereka naik turun bisa 4-5 kali sehari.
Kalau kami dari jam 1 sampai 4.12 baru sampai atas... mereka hanya butuh sekitar 2 jam. Luar biasa. Kerasnya hidup, tapi dijalani dengan biasa saja.
Saat kami mencoba menghangatkan badan, seorang guide local-dari logatnya jelas orang Madura-membantu membuatkan api unggun. Bahkan dengan ramah, dia membantu mengabadikan momen kami menggunakan HP saya dan beberapa pendaki lain.
