Video Pilihan

"Dingin, Gelap, dan Bau Belerang: Perjalanan Spiritual Menyambut Api Biru di Gunung Ijen"

14 Juni 2026   05:00 Diperbarui: 13 Juni 2026   21:23 131 14 10


Selamat Pagi...

Ada perjalanan yang tidak hanya menguji fisik... tapi juga hati, napas, bahkan keyakinan.

Dan Gunung Ijen adalah salah satunya.

Tujuan kami sederhana, tapi tidak biasa: melihat fenomena langka dunia-api biru. Katanya, di dunia ini hanya ada dua tempat yang memiliki keajaiban ini... dan salah satunya ada di Indonesia. Rasanya seperti dipanggil untuk melihat langsung.

Tepat pukul 00.00, kami sudah tiba di basecamp. Tapi seperti hidup... tidak semua bisa langsung dimulai. Pintu pendakian masih tertutup.

Udara? Jangan ditanya.

Dingin yang bukan sekadar dingin... tapi dingin yang bikin tulang ikut berpikir ulang. Sudah pakai dua lapis baju dan jaket, tetap saja belum cukup. Akhirnya kami menepi ke warung kecil, mencari minuman hangat-penyelamat malam itu.

"Koleksi: Misbah Moerad."

Jam 01.00, pintu dibuka.

Sekitar 200 orang mulai bergerak. Dari bahasa yang terdengar di sepanjang jalur, ada pendaki dari Belanda, Rusia, Jerman... bahkan seperti "mini dunia" berkumpul di kaki Gunung Ijen.

Kami? Tetap dengan gaya sendiri.

Pelan... karena saya membawa istri dan satu teman wanita dari Kalimantan Timur. Beberapa kali harus berhenti, bukan hanya karena lelah... tapi juga karena kami memilih menikmati perjalanan.

Gelap menyelimuti jalur. Hanya lampu senter dan headlamp yang menjadi teman. Sesekali kami berpapasan dengan pemandangan yang cukup unik-pendaki yang dibawa menggunakan gerobak.

Ya... benar-benar duduk manis.

Satu orang menarik, dua orang mendorong. Total tiga orang tenaga manusia. Tarifnya saat itu sekitar 800 ribu rupiah PP (sekarang katanya sudah 1 juta). Sebuah pilihan bagi yang ingin "hemat tenaga"... tapi mungkin kehilangan cerita.

"Koleksi : Misbah Moerad."

Alhamdulillah, pukul 04.12 kami tiba di atas.

Di sinilah dilema muncul.

Turun ke api biru? Atau sholat subuh?

Kalau turun, hampir pasti subuh terlewat. Kalau sholat di bawah, bau belerang terlalu menyengat dan tidak memungkinkan.

Akhirnya kami memilih... sholat di atas.

Dan di momen yang tidak direncanakan itu, para pendaki mendaulat saya menjadi imam. Dalam gelap, di atas batu, dengan jarak antar jamaah yang tidak rapat... kami melaksanakan sholat subuh.

Seseorang mengumandangkan azan, entah dari mana asalnya. Wajah tidak terlihat, tapi suaranya jelas. Dan di tengah dingin, gelap, dan kelelahan... ada ketenangan yang sulit dijelaskan.

"Koleksi: Misbah Moerad."

Mungkin ini bukan sekadar pendakian.

Ini perjalanan batin.

Menikmati api biru memang penuh perjuangan. Selain jalur yang menantang, bau belerang begitu menyengat. Banyak pendaki menggunakan masker khusus.

Dan di tengah semua itu, saya justru kagum pada para penambang belerang.

Mereka naik turun bisa 4-5 kali sehari.

Kalau kami dari jam 1 sampai 4.12 baru sampai atas... mereka hanya butuh sekitar 2 jam. Luar biasa. Kerasnya hidup, tapi dijalani dengan biasa saja.

Saat kami mencoba menghangatkan badan, seorang guide local-dari logatnya jelas orang Madura-membantu membuatkan api unggun. Bahkan dengan ramah, dia membantu mengabadikan momen kami menggunakan HP saya dan beberapa pendaki lain.

"Koleksi: Misbah Moerad."

Pagi pun tiba.

Langit mulai membuka dirinya. Cahaya perlahan menggantikan gelap. Kami pun mengabadikan keindahan Ijen dengan lebih jelas-pemandangan yang tidak akan pernah cukup hanya dilihat sekali.

Pukul 07.12 kami mulai turun.

Dan pukul 09.25... kami tiba kembali di basecamp.

Lelah? Pasti.

Tapi ada rasa yang lebih besar dari itu: syukur.

"Koleksi: Misbah Moerad."

Gunung Ijen mengajarkan kami bahwa keindahan itu sering tersembunyi di balik perjuangan. Bahwa tidak semua yang indah mudah dijangkau.

Dan bahwa kadang... perjalanan terbaik bukan tentang apa yang kita lihat, tapi apa yang kita rasakan di sepanjang jalan.

Jadi, kalau suatu hari kalian ingin melihat keajaiban dunia...

Siapkan fisik, kuatkan hati... dan jangan lupa, sisakan ruang untuk bersyukur.

Karena di Gunung Ijen, bukan hanya api biru yang menyala.

Tapi juga rasa dalam diri kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4