Selamat Pagi...
Ada satu prinsip sederhana yang selalu saya pegang setiap kali mendaki: yang penting bukan cepat sampai, tapi tetap sampai. Dan prinsip itu kembali kami buktikan saat saya dan istri menapaki jalur menuju Gunung Geugeur di Sentul, dengan ketinggian yang "ramah" di angka 890 MDPL.
Seperti biasa, kami memilih hari biasa. Bukan karena tidak suka keramaian... tapi lebih tepatnya, kami tidak ingin ikut lomba lari massal di gunung. Hehe... Pengalaman sudah mengajarkan, kalau weekend itu bukan lagi "healing", tapi malah "desak-desakan versi alam".
Cuaca pagi itu cerah. Langit biru seperti memberi izin khusus untuk kami menikmati perjalanan tanpa drama. Jalur awal terasa bersahabat, cukup untuk pemanasan kaki dan mengingatkan badan bahwa ini bukan jalan ke warung.

Memasuki jalur dari pos 2 menuju pos 3, kami berpapasan dengan dua remaja dari Depok. Masih muda, tenaga masih penuh, langkahnya ringan seperti tidak punya beban hidup. Sementara kami... ya... jalannya mengikuti usia. Hehe... pelan, teratur, dan sesekali berhenti bukan karena capek... tapi "menikmati pemandangan".
Mereka melesat, kami melambat. Tapi satu hal yang pasti, tujuan kami sama: puncak.
Dan benar saja... dengan ritme "pelan tapi pasti", akhirnya kami sampai juga di puncak Geugeur. Rasa lelah langsung terbayar lunas dengan pemandangan yang terbuka luas. Angin sepoi-sepoi, langit bersih, dan suasana yang tidak terlalu ramai-ini yang kami cari.
Setelah cukup menikmati puncak dan tentu saja... sesi foto wajib (ini yang kadang lebih lama dari naiknya), kami turun sedikit. Di sanalah kami menemukan sesuatu yang unik: Warteg Hutan.
Ya... benar-benar warteg, tapi versi alam. Sederhana, tapi justru itu yang membuatnya istimewa. Makanan hangat, minuman segar, dan suasana hutan yang alami-rasanya jauh lebih nikmat dibanding makan di kota dengan AC dingin.
Kami duduk santai, menikmati hidangan sambil sesekali tertawa kecil mengingat perjalanan tadi. Tidak ada yang mewah, tapi justru di situlah letak kebahagiaannya.

Gunung Geugeur mungkin bukan gunung tinggi. Tapi dari perjalanan ini, kami kembali diingatkan bahwa mendaki bukan soal menaklukkan ketinggian, melainkan tentang menikmati proses, menjaga kebersamaan, dan mensyukuri setiap langkah.
Jadi, buat teman-teman yang ingin mulai mendaki, tidak perlu langsung yang tinggi-tinggi. Gunung seperti Geugeur ini sangat cocok untuk pemula, keluarga, atau siapa saja yang ingin "healing" tanpa harus terlalu memaksakan diri.
Dan satu lagi... tidak perlu terburu-buru.
Karena di gunung, yang pelan seringkali justru yang paling menikmati.
Yuk... kapan terakhir kali kamu naik gunung?